Malam itu di apartemen mewah milik Nadira, suasana tampak sangat berbeda dari kesedihan yang seharusnya dirasakan seorang tunangan yang diabaikan panggilannya. Lampu redup, aroma wine memenuhi udara, dan tawa lembut Nadira terdengar berulang kali di antara percakapan yang menggoda. Di sofa empuk berlapis beludru, Nadira bersandar manja di bahu seorang pria berwajah teduh namun penuh tipu daya — Reno, asisten kepercayaan Elvan yang selama ini dikenal sangat loyal. “Jadi Elvan benar-benar nggak angkat teleponmu, Nadira?” tanya Reno sambil menuangkan wine ke gelas Nadira. Nadira mengangguk pelan, matanya menyipit kesal. “Dia berubah sejak gadis itu datang. Dulu, Elvan nggak pernah menolak panggilanku. Sekarang, bahkan pesan dariku diabaikan.” Reno tersenyum licik, jari-jarinya menelusur

