Takut Gagal lagi

1497 Kata

Malam itu, hujan belum juga reda. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya suram di genangan air, sementara mobil hitam Elvan melaju pelan menuju rumahnya. Suasana di dalam mobil hening, hanya suara detak hujan di kaca depan yang terdengar. Elvan menatap jalan kosong di depannya dengan pandangan kosong. Setiap kali ia mengedip, wajah Cindera muncul — air mata, tatapan kecewa, dan kata-kata yang terngiang di kepalanya. “Aku udah cukup jadi pilihan, bukan prioritas.” Ia meremas setir kuat-kuat, napasnya tersengal, penuh amarah pada dirinya sendiri. “Bodoh… aku bodoh banget.” gumamnya lirih. Begitu tiba di rumah besar keluarga Wiratama, suasana sunyi menyambutnya. Hanya suara detak jam dinding dan langkah kakinya yang menggema di koridor. Sang kakek sudah tidur, tapi ibunya yang sedang duduk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN