Malam semakin pekat, hujan kembali turun rintik-rintik, menambah suram suasana di gudang tua tempat Cindera disekap. Udara dingin menusuk kulitnya, rantai di pergelangan tangannya terasa makin menyakitkan karena terus ia tarik. Namun tekadnya untuk bertahan membuatnya tak menyerah. Cindera menatap ke arah jendela kecil di sudut ruangan yang terbuka sedikit. Ia mengatur napas pelan, mencoba mencari cara agar bisa keluar. Tangannya meraih potongan logam karat di lantai, lalu perlahan mengikis tali pengikat yang menahan pergelangan tangannya. Suara langkah kaki terdengar mendekat. Cindera cepat-cepat berpura-pura pingsan. Pintu berdecit. Dua orang anak buah Reno masuk membawa makanan. “Bos bilang kasih makan aja, tapi jangan dibuka ikatannya,” ujar salah satu dengan nada kasar. “Cepe

