Siang mulai merayap ketika aroma bubur hangat memenuhi ruang tamu rumah keluarga Brama. Bu Ratna sedang menyiapkan makanan untuk Cindera, sementara Elvan masih duduk di kursi dekat kamar, menatap pintu yang tertutup separuh. Ia belum beranjak sejak pagi. Beberapa kali Bu Ratna melirik ke arahnya. “Nak Elvan, kamu nggak usah nungguin di situ terus. Nanti malah bosan,” katanya lembut. Elvan tersenyum tipis. “Nggak, Tante. Saya nggak keberatan. Lagipula saya tenang kalau tahu Cindera istirahat dengan baik.” Tak lama kemudian, Cindera keluar dari kamar dengan langkah pelan. Wajahnya masih pucat, namun senyum kecil mulai muncul di bibirnya. Ia mengenakan sweater lembut dan selimut kecil di bahu. “Kamu masih di sini, Elvan?” tanyanya dengan suara serak. “Iya,” jawab Elvan lembut. “Aku bel

