Hujan masih belum reda malam itu. Petir sesekali menyambar langit hitam di atas hutan lebat di pinggiran kota. Di tengah hutan itu berdiri sebuah rumah kayu tua, berdinding papan kusam dan beratap seng karatan, tempat persembunyian yang sejak dulu dibangun Reno sendiri untuk melarikan diri dari dunia yang kejam. Reno duduk di kursi reyot, menyalakan rokok dengan tangan gemetar. Wajahnya penuh luka, sebagian perban sudah basah oleh darah yang merembes keluar. Matanya menatap kosong ke arah nyala api kecil di tungku. “Mereka pikir aku kalah? Tidak semudah itu…” gumamnya lirih dengan nada geram. Suara langkah kaki di luar rumah membuatnya refleks meraih pistol di meja. Pintu kayu terbuka perlahan. Sosok Nadira muncul dengan mantel panjang, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tegang

