Pagi itu, sinar matahari perlahan menembus tirai kamar Cindera. Udara masih lembab sisa hujan semalam, dan aroma kopi dari dapur tercium samar. Cindera menggeliat pelan, lalu meraih ponselnya yang masih di atas meja nakas. Layar masih menyala. Panggilan video belum terputus. Wajah Elvan terlihat di sana, tertidur pulas dengan posisi miring, rambut sedikit berantakan, dan nafasnya teratur. Ponselnya tampak tergeletak di d**a, dan sinar pagi memantul lembut di wajahnya. Cindera menatap layar itu lama. Senyum kecil muncul di bibirnya, lalu ia menahan tawa pelan melihat Elvan yang sesekali bergumam tidak jelas dalam tidurnya. “Tidur nyenyak banget, padahal semalam katanya nggak bisa tidur,” gumamnya pelan. Ia kemudian menyalakan kamera depan dan dengan iseng mengambil screenshot wajah El

