“Duuuh duuuh telurku… sakiiit!! Kenapa juga Aya tega menendangku sih? Nanti kalau tombakku jadi tidak bisa berfungsi gimana dong? Aku kan jadi tidak bisa memuaskan Aya. Duuh duuh sakiiittt!” Abhi menelungkupkan wajah ke meja beralaskan kedua tangannya. Dia meringis, sebenarnya tidak begitu terasa sakit, hanya nyeri saja. Tapi kan sudah lama sekali dia tidak gunakan barang-barang pribadinya itu. “Kamu kenapa sih Bhi?” terdengar suara berat seorang lelaki menyapanya, bertanya dengan heran. Abhi mendunga sebentar, tapi segera menelungkupkan lagi kepala saat tahu siapa yang datang. “Kamu nih Sa, kaya kunti aja, muncul dadakan. Bukannya ucap salam kek.” “Lah dari tadi aku udah ucap salam, ketuk pintu juga, kamu yang gak jawab. Makanya aku masuk aja, eeh malah dengar kamu ngomongin telur.

