Bab 2: Labirin Kecanggungan

1093 Kata
Rio duduk di sofa ruang tamu yang empuk, namun rasanya sekeras batu karang. Ia terus memperbaiki posisi duduknya, mencoba menetralisir gemuruh di dadanya yang seolah ingin meledak. Ruangan itu dipenuhi aroma pengharum ruangan, namun bagi Rio, udara di sana terasa sangat tipis. "Santai saja, Sayang. Kamu terlihat seperti sedang diinterogasi polisi," ucap Aluna sambil menggenggam jemari Rio, mencoba menyalurkan ketenangan melalui sentuhan hangatnya. Rio menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "I-iya, aku hanya... tiba-tiba merasa belum siap saja bertemu Mamamu," jawab Rio, berusaha memberikan alasan yang masuk akal di tengah kegugupannya yang nyata. Tak lama kemudian, Arumi muncul dari arah dapur. Ia membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk dingin dan sepiring camilan kecil dan jantung Rio berdegup semakin kencang. "Silakan diminum jusnya." ucap Arumi menawarkan dengan sedikit gugup dengan Suara halus namun ada getaran kecil yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia meletakkan gelas-gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, memastikan ia tidak melakukan kontak mata langsung dengan Rio. Aroma parfum Arumi yang khas yang masih sama seperti lima tahun lalu tiba-tiba menyeruak masuk ke indra penciuman Rio, membangkitkan kilas balik memori panas yang seharusnya sudah terkubur. "Terima kasih, Tante. Maaf jadi merepotkan," jawab Rio pendek. Suaranya serak, ia segera meraih gelas jus itu untuk membasahi kerongkongannya yang tercekat. Saat Arumi bergegas pergi membawa kembali nampan kosong ke arah dapur, Rio tak mampu menahan instingnya. Tanpa sadar, matanya melirik, menelusuri lekuk tubuh Arumi dari belakang. Gaun satin putih itu bergerak mengikuti ayunan pinggul Arumi yang masih kencang dan terjaga. “Walau sudah tak bertemu selama lima tahun, tapi tubuhnya masih sangat bagus. Bahkan tampak lebih berisi dan matang,” ucap Rio dalam hati. Sebuah pikiran kotor yang langsung membuatnya merasa berdosa sekaligus b*******h di saat yang bersamaan. Aluna, yang duduk tepat di sampingnya, menyadari ada yang aneh dengan arah pandang kekasihnya. Ia memperhatikan Rio yang tampak melamun menatap punggung ibunya. "Sayang? Kamu melamunkan apa?" ucap Aluna penuh selidik, namun masih dengan nada bercanda. Rio tersentak, hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya. Ia berdeham keras, mencoba mengalihkan kecurigaan Aluna. "Eh.. itu... aku gak nyangka aja, mamamu masih muda banget, lebih cocok jadi kakak kamu daripada ibumu," ucap Rio berusaha normal, meski hatinya berpacu cepat. Alulna terkekeh, merasa bangga karena pria yang dicintainya memuji sang ibu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rio dengan manja. "Bukan kamu saja yang bilang begitu padaku, saat aku jalan dengan Mama juga banyak yang bilang begitu. Seringkali orang mengira kami adik kakak," ucap Aluna dengan nada ceria. Aluna kemudian menatap ke arah dapur, tempat ibunya tadi menghilang. "Mama sering nge-gym jadi kelihatan awet muda banget, aku juga iri sama kecantikan mamaku sendiri. Dia sangat disiplin menjaga bentuk tubuhnya sejak dulu," ucap Aluna tanpa tahu bahwa pujiannya itu adalah bahan bakar bagi imajinasi liar Rio. Rio hanya mengangguk kaku, namun di balik wajahnya yang tenang, pikirannya berkelana jauh ke masa lalu. “Bukan hanya cantik, tubuhnya juga terasa nikmat banget saat aku menyetubuhi ibumu dulu,” ucap Rio dalam hati. Sebuah rahasia gelap yang terasa seperti bara api di lidahnya. Arumi kembali ke ruang tamu, kali ini ia membawa piring berisi potongan buah-buahan segar lalu meletakannya dimeja. Ia duduk di sofa tunggal yang letaknya berseberangan dengan Rio dan Aluna. "Ayo dimakan buahnya, Rio. Ini segar sekali," ucap Arumi sedikit gugup, tangannya merapikan helai rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Jantung Arumi sebenarnya berdegup kencang, setiap kali matanya tak sengaja bertemu dengan mata Rio, ia merasa seperti ditelanjangi oleh kenangan masa lalu yang kelam. "Ah iya, terima kasih Tante," ucap Rio kembali gugup. Ia menusuk sepotong melon dengan garpu kecil, namun tangannya bergetar sehingga melon itu hampir jatuh kembali ke piring. Arumi menyadari kegelisahan Rio yang berlebihan. Ia mencoba mencairkan suasana namun justru terdengar kikuk. "Kenapa kamu gugup begitu? Tante tidak menggigit, kok," ucap Arumi sambil mencoba bercanda dengan tertawa kecil, meski matanya memancarkan ketakutan yang dalam. Rio tersentak, ia meletakkan garpunya kembali. "E-enggak kok, Tante. Mungkin karena saya terlalu senang akhirnya bisa bertemu dengan Ibu dari Aluna," jawab Rio dengan alasan yang klise. Alula tertawa melihat tingkah kaku Rio. "Kamu gak biasanya loh gugup begini, Sayang. Biasanya kamu paling jago mencairkan suasana kalau ketemu orang," ucap Aluna sambil mencubit pelan lengan Rio. Aluna menatap ibunya, lalu beralih ke Rio dengan tatapan penuh selidik yang mulai serius. "Jangan-jangan kalian sebenarnya sudah saling mengenal sebelumnya? Ekspresi kalian berdua sejak tadi aneh sekali," ucap Aluna dengan nada curiga yang mulai muncul. Ruangan itu mendadak hening seketika. Arumi merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia menjawab secepat mungkin. "Kami gak kenal Luna, ini pertama kalinya Mama ketemu sama pacar kamu." jawab Arumi. Ia terpaksa berbohong demi menyelamatkan segalanya. "Iya, ini pertama kali aku bertemu Mamamu, maklum kalau aku sangat gugup. Aku ingin memberikan kesan pertama yang terbaik, Luna," ucap Rio menimpali, berusaha meyakinkan Aluna agar kecurigaannya tidak berkembang lebih jauh. Mereka bertiga kemudian menghabiskan waktu sekitar 30 menit mengobrol tentang pekerjaan Rio dan butik Arumi. Meski percakapan mengalir, di bawah permukaan, ada badai yang sedang berkecamuk. Jantung Rio dan Arumi berdegup kencang masing-masing, saat mata mereka saling bertemu satu sama lain. Tiba-tiba, Arumi teringat sesuatu. Ia melihat jam di dinding. "Oh iya Luna, kamu bisa anterin kue ke Tante Bela ga? Mama lupa nganterin tadi, padahal dia sudah pesan dari kemarin untuk acara keluarga malam ini," ucap Arumi. sebuah ide untuk menjauhkan Aluna sejenak agar ia bisa mengurangi kegugupannya. "Duh, sekarang Ma? Aku kan lagi asik ngobrol sama Rio," jawab Aluna sedikit manja, sempat ragu sejenak. "Bentar doang kok, rumah Tante Bela kan cuma di blok depan kompleks ini. Kasihan kalau dia kelamaan nunggu," desak Arumi dengan nada memohon. "Biar aku temenin kamu, Sayang. Sekalian aku ingin lihat lingkungan sekitar sini," ucap Rio menawarkan diri, Namun, Aluna justru menolaknya. "Kamu di sini aja, Sayang. Ngobrol sama Mama dulu, biar kamu cepet akrab dan gak gugup lagi sama calon mama mertua. Lagian cuma bentar doang kok di depan kompleks, aku pakai motor Mama saja biar cepat," ucap Aluna sambil berdiri. Mendengar jawaban aluna, Rio tidak punya pilihan lain. "Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan ya," ucap Rio dengan perasaan was-was yang semakin memuncak. Aluna mengambil kue di dapur dan mengambil kunci motor. Ia mencium pipi Rio singkat sebelum melangkah keluar. "Aku pergi dulu ya, Ma, Rio! Jangan berantem ya kalian berdua!" ucap Alula dengan nada riang, tanpa tahu bahwa ia baru saja meninggalkan dua orang yang memiliki sejarah paling kelam di dalam satu ruangan tertutup. Suasana di ruang tamu itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi setelah suara motor Aluna menjauh. Udara yang tadinya hangat kini terasa mencekam. Rio dan Arumi kini benar-benar hanya berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN