Dalam perjalanan ke Universitas, Salsa menghela napasnya karena ia akan bertemu Zilo dan nanti di Rumah sakit ia juga bertemu Zilo. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertemuannya dengan Zilo, tapi mengingat dulu ia pernah bertengkar dengan Zilo hingga ia dipermalukan saat di kampus, itu membuatnya sangat kesal setiap kali ia bertemu dengan Zilo. Ia tidak ingin kejadian memalukan apapun itu, terulang lagi dan Zilo bahkan tidak pernah mengatakan maaf padanya.
“Kenapa sih aku sering banget ketemu sama dia. Ini… aku bakalan nikah sama dia kalau aku nggak berbuat sesuatu untuk menghentikan semuanya,” ucap Salsa kesal.
Ya...saat itu memang Salsa sangat terpesona dengan sosok Arzilo Alexsander ketika seminar diadakan dikampusnya dan saat itu ia merupakan mahasiswa kedokteran semester lima. Salsa memang salah saat itu, karena dia datang terlambat datang ke kampus namun memang pagi itu ia sedang sakit perut dan ia memilih untuk tertidur lebih lama, hingga ia akhirnya kesiangan. Ketika ia datang masuk ke dalam ruangan ia segera duduk apalagi tadi sosok dosen yang sangat terkenal pintar dan tampan itu sedang membelakanginya, karena menjelaskan materi perkuliahannya dengan menatap media yang ada didekatnya.
Awalnya Salsa merasa sangat beruntung karena berhasil masuk kedalam ruang kelas Zilo, apalagi biasanya Zilo akan mengabsenkan mereka satu persatu, ketika jam kuliah akan berakhir. Arzilo Alexsander lelaki hebat yang telah berkuliah sejak umur empat belas tahun lebih cepat dari anak-anak normal sebelumnya dan ia juga berhasil menjadi salah satu dokter spesialis termuda saat itu diumurnya yang masih berumur dua puluh lima tahun. Prestasi gemilang yang membuatnya sangat luar biasa karena kemampuannya sama seperti Papanya Kenzo dan juga kakak sulungnya Keanu Alexsander yang juga menjadi seorang dokter.
Zilo tiba-tiba menatap kearahnya dan Zilo terkejut melihat Slasa yang telah duduk sambil mencatat materi perkuliahan, yang sedang ia sampaikan. Tentu saja ada rasa kesal yang saat itu yang Zilo rasakan, apalagi ia telah jelas-jelas menyampaikan kepada mereka kalau dia ingin anak didiknya itu disiplin dan jika terlambat, mereka tidak perlu masuk ke kelasnya. Zilo tiba-tiba meminta Salsa untuk maju kedepan dan tentu saja saat itu Salsa segera menuruti perintah Zilo, namun ia yang pelupa ini sangat ceroboh karena ia sama sekali tidak memakai pembalut dan itu membuat teman-teman sekelasnya melihat noda darah di bagian belakang rok yang ia kenakan.
"Bagimana kamu bisa bertanggung jawab mengobati pasien, jika kamu saja sangat ceroboh Salsabila," ucap Zilo membuat Salsa terkejut.
"Kenapa Pak?" Tanya Salsa penasaran saat itu.
"Kamu sedang datang bulan dan...tembus," ucap Zilo membuat Salsa saat itu sangat malu, terlebih lagi laki-laki yang ia sukai ini mengatakannya dengan cukup lantang didalam kelas hingga ia menjadi bahan pembicaraan mereka. Hal itu sungguh membuat salsa malu dan sejak saat itu, Salsa ingin sekali menenggelamkan dirinya didasar laut karena ia sangat malu.
Kembali ke waktu sekarang, di mana Salsa menganggap masa lalu buruk itu teramat memalukan baginya. Sejak saat itu Salsa selalu berusaha untuk menghindari Zilo, namun tetap saja Zilo yang harusnya menjadi pahlawan penyelamatnya itu berbalik arah menjadi musuh besarnya. Apalagi Zilo sama sekali tidak membantunya untuk menghindari acara perjodohan keluarganya dan Zilo tidak mau berkerja sama dengannya. Salsa tidak menyangka ia harus di jodohkan dengan laki-laki yang bermulut pedas, sombong dan tidak punya hati.
"Si ganteng berhati iblis itu pasti dengan senang hati menerima bekal buatan Mami, pengen banget sebenarnya ngeludahin ini makanan atau aku datang ke dukun terus minta dukun guna-gunain dia, biar dia mengerti kalau pertunangan ini harus batal," kesal Salsa. "Tapi gue yang hati helo kity ini mana bisa sejahat itu, kenapa sih saat gue ini lahir ke dunia pembagian sifat jahat banget itu gue nggak kebagian," kesal Salsa prustasi.
Beberapa menit kemudian ia sampai di Universitas kebanggaan tempat ia menimba ilmu yaitu Universitas Alexsander yang merupakan Universitas milik keluarga Arzilo Alexsander. Konon katanya universitas ini adalah universitas yang dibangun oleh Kakek buyutnya Arzilo Alexsander yang sekarang sudah berpulang dengan tenang beberapa tahun yang lalu. Kakek Arzilo yang saat ini masih sering mengajar dikampus ini diumurnya yang sudah tua adalah Alvaro Alexsander dan sialnya, Kakek tua ini juga tampan dimasa tuanya. Salsa bahkan pernah berpikir mungkin, Zilo masih akan sangat tampan di waktunya sudah tua nanti seperti Kakeknya.
Salsa melangkahkan kakinya masuk kedalam aula besar karena hari ini adalah mata kuliah umum, namun sangat wajib diikuti. "Wah...untung nggak terlambat ya Sa," goda Zarah.
"Ngapain sih diingatkan dengan masalalu yang membuat aku itu kesal setengah mati," ucap Salsa membuat Zarah terkekeh.
"Ya ampun dulu saja lo bilang kalau lo kagum sama dia karena udah tampan, kaya dan pintar tapi sekarang karena masalah itu respek lo sama dia hilang gitu yang ada rasa benci," ucap Zarah. Sahabatnya ini tidak tahu jika lelaki yang bernama Arzilo Alexsander ini adalah calon suaminya. "Tapi ingat ya Sal, benci itu nanti jadi cinta loh," goda Zarah membuat Salsa memutar bola matanya dan ia telihat kesal.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan telihat sosok tampan Arzilo Alexsander melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan ini menuju podium. Aura kewibawaannya dan kecerdasannya membuat para mahasiswa menyukainya bahkan menghormatinya. Zilo memiliki tubuh tinggi yang atletis apalagi ia memang sangat suka berolahraga. Wajahnya sangat tampan dengan hidung mancung dan rahangnya yang tegas menunjukkan betapa ia adalah sosok maskulin. Kulitnya yang putih dengan jakunnya yang terlihat sedikit menonjol dan bagian tubuhnya yang tegap, bahkan tatapannya yang tajam membuat banyak para perempuan berusaha untuk mendapatkan perhatiannya.
Salsa bahkan hampir setiap hari melihat para perempuan mencoba mendapatkan hati Zilo dengan berbagai tingkahnya yang menggoda. Zilo terlihat sedang bersiap memulai perkuliahannya dan ia menatap semua mahasiswanya dengan tatapan dingin. Salsa bisa mendengar dengan jelas bisikan kagum dari beberapa perempuan yang berada disekitarnya.
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya," ucap Zilo.
"Waalaikumsalam," ucap semua mahasiswa.
"Terimakasih sudah datang diwaktu yang tepat sesuai dengan kontrak perkuliahan kita, saya harap untuk pertemuan selanjutnya kalian akan tetap disiplin seperti ini," ucap Zilo. Setiap Zilo menyampaikan kuliahnya semua mahasiswanya diam dan mendengarkan penjelasan Zilo yang akurat.
Selama sembilan puluh menit perkuliahan berlangsung dan saat ini akhirnya perkuliahan mereka telah selesai. Zilo kemudian keluar dari ruangan ini dengan acuh seperti biasanya dan itu membuat Salsa menghela napasnya. Di kampus ia memang akan seperti orang asing dan tidak bertegur sapa, tapi saat ini ia harus memberikan bekal makanan ini kepada Zilo kalau tidak, ia akan dimarah oleh Maminya yang merupakan penggemar berat Zilo.
"Ini bekal ngerepotin banget," ucap Salsa membuat Zarah yang menyusun bukunya masuk kedalam tasnya, mengerutkan dahinya mendengar ucapan Salsa.
"Lo bawa bekal? Minta dong!" Pinta Zarah.
"Bukan punya gue ini punyanya calon menantu Mami gue dan gue harus anterin ini bekal, gue duluan dulu Zarah nanti gue telepon lo karena gue mau ambil baju gue di Apartemen lo!" Ucap Salsa.
"Jadi lo nggak jadi nginap di apartemen gue malam ini?” Tanya Zarah.
"Enggak..." ucap Salsa segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan ia mencari keberadaan Zilo.