Selasa (00.03), 20 April 2021 --------------------- PRAANGG! Pot bunga besar di halaman belakang rumah itu hancur. Bukan karena angin atau tersenggol. Melainkan sengaja dihancurkan oleh remaja tujuh belas tahun yang tengah memegang pemukul bisbol. Terdengar derap langkah buru-buru dari dalam rumah. Lalu tampak wajah-wajah yang familiar. Kedua orang tuanya serta kakek dan neneknya. “Fachmi!” seru lelaki jangkung yang sudah siap dengan setelan kerja namun tanpa jas. Dia adalah Rafka, Papa Fachmi. Fachmi mengabaikan Papanya dan beralih pada pot yang lain. Dalam sekali ayunan, kembali pemukul bisbol di tangannya memakan korban. Suaranya bahkan lebih memekakkan daripada sebelumnya. “Nak, menghancurkan barang-barang tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya bicarakan baik-baik.” Nasihat

