" Anak saya sudah mapan, saya jamin bisa lebih baik dari Andika " ucap wanita paruh baya itu lagi , yang kini mempromosikan putranya.
Semua tidak ada yang berani menjawab ucapan wanita paruh baya itu, semua keputusan berada pada Naya, meski sebenarnya keluarga Naya tidak mempermasalahkan jika seandainya setelah ini keluarga mereka akan menanggung malu.
Tapi dalam hati Papa Bagas dan Gio sudah memiliki rencana pada keluarga Winata terutama Andika, jika seandainya Andika benar - benar memang mempermainkan Kanaya.
" Sebentar saya hubungi putra saya dulu ya " ucap wanita paruh baya itu lagi, lalu ia keluar dari kamar Naya.
Dan bersamaan dengan itu,
" Ting! "
Suara notif pesan berbunyi di ponsel Naya dan Gio.
Refleks, Naya dan Gio sama - sama langsung membuka pesan di ponselnya.
Gio meremas ponselnya dengan kuat, wajah nya datar.
Sementara Naya terlihat juga meremas ponselnya dengan kuat, wajah memerah menahan amarah.
" Aku mau nikah sama anak tante " ucap Kanaya tiba - tiba.
" Naya! " ucap papa Bagas,Mama Vina, Gio dan Najwa bersamaan.
Sehingga membuat Ciara yang sejak tadi anteng di dalam gendongan sang papa terkejut.
" Sayang maaf, nggak apa - apa " ucap Gio menenangkan putrinya.
" Jangan marah - marah sama ante Aya " ucap Ciara dengan suara cadelnya.
" Nggak sayang, nggak " ucap Gio.
Seperti nya semuanya lupa jika ada Ciara di sana sehingga mereka sampai meninggikan suara barusan.
Terlihat wanita paruh baya itu masuk ke kamar Naya lagi.
" Maaf saya baru saja menghubungi anak saya, dia sudah di depan komplek ini " ucap wanita paruh baya itu dengan senyum nya.
" Bagaimana keputusan Naya? " tanya wanita itu.
" Mau kan nikah sama anak tante " ucap wanita paruh baya memastikan ( Meski sebenarnya ia sangat berharap Kanaya mau menikah dengan putranya )
" Mau Tante " ucap Kanaya tanpa berpikir panjang lagi, bahkan ia tak memikirkan dengan siapa ia akan menikah setelah ini, yang pasti ia harus segera menikah, agar keluarga nya tidak menanggung malu, urusan perasaan ia tak mau memikirkan nya, yang jelas luka yang di berikan oleh Andika kali ini sudah benar - benar tidak bisa di tolerir lagi.
" Ah benar kah? Kamu sudah tidak bisa menarik ucapan kamu ya sayang, Tante turun dulu, Tante mau mempersiapkan anak tante dulu " ucap wanita paruh baya itu bersemangat, lalu tanpa menunggu jawaban dari Naya dan keluarga nya wanita paruh baya itu keluar dari kamar Naya.
" Dek, kenapa.." ucap mama Tania, namun belum selesai menyelesaikan ucapannya, Naya langsung memotong nya.
" Maaf semuanya, maafin Naya, Naya nggak mau rugi dua kali, Naya sudah di tinggal Andika, Tapi Naya nggak mau keluarga kita menanggung malu " ucap Kanaya dengan mantap.
" Tapi Nak " ucap Mama Vina.
" Ma " potong Naya.
Naya menatap keluarga nya satu persatu, lalu tatapan nya terkunci pada sang papa.
Papa Bagas tersenyum seraya merentangkan tangannya pada putri kesayangan nya itu.
Seketika Air mata Naya langsung pecah, tanpa berbicara apapun lagi Naya langsung berlari menuju ke arah papa Bagas.
" Jangan sedih, jangan sedih, ada papa di sini, kamu nggak sendirian sayang, ada papa, ada keluarga kamu disini " ucap papa Bagas seraya mengelus punggung Naya, air matanya juga ikut mengalir, sungguh rasa sakit putrinya juga ikut papa Bagas rasakan, atau mungkin sakitnya lebih sakit karena melihat putri kesayangan nya di sakiti seperti saat ini.
Semua yang ada di ruangan itu ikut menangis, seolah ikut merasakan apa yang di rasakan Kanaya saat ini.
Setelah cukup tenang,
pelukan ayah dan anak itu terlepas, terlihat papa Bagas menghapus air mata putrinya itu dengan telapak tangannya.
" Anak papa hebat, anak papa kuat, papa bangga sama Naya " ucap papa Bagas.
" Kamu istirahat ya, kami keluar dulu " ucap papa Bagas.
Kanaya menggeleng mendengar ucapan sang papa.
" Naya mau nikah pah " ucap Naya.
" Nak, jangan mengambil keputusan di saat seperti ini " ucap papa Bagas.
" Pa, Keputusan Naya sudah bulat, tolong papa, mama, Kak Gio dan kak Najwa restui Naya " ucap Naya.
" Tapi dek, kamu belum tau kan siapa calon kamu " ucap Gio.
Terlihat Naya terdiam sepertinya ia mulai sadar dengan ucapannya barusan.
" Ceklek "
Pintu kamar Naya terbuka, terlihat wanita paruh baya tadi kembali datang.
" Maaf semuanya, di bawah anak saya sudah siap, pak penghulu juga bilang kalau waktunya sudah mepet " jelas wanita paruh baya itu.
Papa Bagas hendak bersuara, namun Naya lebih mendahului.
" Baik Tante, maaf membuat menunggu, papa sudah siap " ucap Naya.
Naya menatap papa Bagas dengan senyuman, sehingga papa Bagas hanya bisa bernafas dengan kasar dan menuruti kemauan sang anak.
Wanita paruh baya itu, keluar dari kamar Naya di ikuti oleh papa Bagas dan Gio yang masih menggendong Ciara.
Setelah ketiganya tak terlihat, Mama Vina dan Najwa langsung memeluk Kanaya.
" Naya...maafkan mama nak " ucap mama Vina.
" Maafkan kakak dek, kakak nggak bisa bantu apa - apa " ucap Najwa.
Kanaya menggeleng di dalam pelukan mama dan kakak iparnya.
" Nggak ada yang salah, ini takdir Naya, tolong jangan tangisi keputusan Naya, Naya hanya perlu dukungan dari mama dan kakak " ucap Naya.
Mama Vina dan Najwa kompak mengangguk mendengar ucapan Naya, rasanya sangat sulit mengeluarkan dan mengungkapkan banyak kata saat ini.
Hingga akhirnya tiga wanita beda generasi itu, terdiam tangisnya mereda, yang terdengar hanya suara papa Bagas dan pak penghulu dari lantai bawah,
" Loh, siapa nama pria yang di sebut papa tadi " ucap Naya dalam hatinya saat tadi mendengar suara sang papa menyebut nama pria yang ia yakini suami penggantinya.
Hingga akhirnya,
" Degh! "
Jantung Naya berdetak sangat cepat, saat mendengar suara seorang pria yang dengan lantang mengucapkan ijab kobul dengan sekali tarikan nafas.
Bahkan setiap kalimat yang di ucapkan terdengar dengan jelas oleh Naya terutama saat pria itu menyebutkan nama lengkapnya dengan jelas.
Suara Naya tercekat, mulutnya seolah kaku saat ingin berbicara.
" A aku, nggak salah dengar kan? "
" Namanya, namanya tadi, apa memang cuma mirip ya " ucap Naya terbata.
" Tuhan, apalagi ini..." ucap Naya lirih.