BAB 1

1304 Kata
Seorang gadis cantik terlihat tengah mengaduk - aduk minuman nya di sebuah cafe, sesekali ia melihat jam di pergelangan tangannya, sesekali melihat ponselnya, tak jarang ia melihat pintu masuk, seperti tengah menantikan kedatangan seseorang. Gadis itu bernama Kanaya Amelia Hartono, berusia dua puluh lima tahun, seorang desainer muda, meski namanya belum banyak yang tau, tapi Kanaya sudah memiliki butik sendiri, butik yang Kanaya bangun sejak ia lulus sekolah menengah atas, lebih tepatnya di bangun oleh papa nya. Berawal dari hobby membuat desain, mendapat dukungan dari keluarga, mendapat modal dari sang papa hingga berkembang seperti sekarang. Namun meski begitu, selain berusaha mangasah kemampuannya di dunia desain, Kanaya juga tetap kuliah dengan mengambil jurusan bisnis sesuai keinginan sang papa, dan hal itu tidak bisa di ganggu gugat karena hal itu sudah menjadi keputusan mutlak papa Kanaya agar anak - anaknya kuliah mengambil jurusan bisnis. " Papa bisa mendukung apapun hobby kalian selama itu hal positif, tapi papa cuma minta kalian nurut sama papa agar kalian kuliah dan harus mengambil jurusan bisnis " Begitu kata papa Kanaya saat itu. (Next bab, akan di ceritakan siapa saja keluarga Kanaya). ----------- Naya cemberut dengan wajah menunduk, terlihat ia mengaduk - aduk minuman nya dengan kasar, hingga akhirnya sebuah elusan di kepalanya membuat gadis cantik itu mendongak, wajah nya yang cemberut karena kesal tadi mendadak menjadi wajah bahagia sekaligus tersipu saat melihat siapa yang datang. " Sayang, maaf agak lama, macet " ucap Andika Winata calon suami Naya. Naya menggeleng dengan cepat. " Nggak apa - apa sayang, nggak lama kok, aku juga baru sampai " ucap Naya berbohong, padahal ia sudah menunggu sekitar satu jam di sana. " Syukurlah, aku nggak bikin kamu nunggu lama " ucap Andika seraya mencium pucuk kepala Naya sekilas, lalu duduk di hadapan Naya. " Kok belum pesan makanan? " tanya Andika saat melihat meja mereka kosong, karena hanya ada segelas jus strawberry di hadapan calon istrinya. " Ma, maaf sayang, aku, aku tadi pas sampe, berpikir mau pesen makan bareng sama kamu, jadi aku pesen minum aja " Jawab Kanaya beralasan, padahal sebenarnya ia sudah memesan dan makanannya pun sudah habis, sehingga ia memesan jus strawberry lagi sekalian piring bekasnya di bereskan. " Oh, gitu, aku pesan ya, sekalian kamu aku pesenin " ucap Andika dengan santai. Ya, seperti itu hubungan Kanaya dan Andika, Kanaya yang selalu mengalah, selalu mengutamakan Andika, dan selalu memaklumi seorang Andika dalam hal apapun, sehingga tak jarang Andika bertingkah egois pada Kanaya, tapi karena rasa cinta diantara keduanya keburukan itu menjadi tertutupi. Namun meski begitu, Kanaya sudah memantapkan hatinya jika pilihan nya adalah Andika dan ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan kekasih atau tunangan nya itu yang sudah membersamainya selama empat tahun. " Sayang " ucap Andika seraya menyentuh tangan Naya diatas meja. " Eh, iya sayang " ucap Naya terkejut. " Kok bengong, kamu marah sama aku? " tanya Andika lembut. " Aku ada salah? " tanya Andika lagi. " Eng enggak kok sayang, maaf, aku melamun " ucap Naya. " Sayang, bilang sama aku, ada yang nyakiti kamu? " tanya Andika lagi. Kanaya menggeleng pelan, " Aku masih nggak nyangka aja, sebentar lagi kita akan menikah " ucap Naya dengan senyum malu - malunya. Ya, begitulah Naya mudah sekali tersipu jika bersama calon suaminya, meskipun keduanya sudah lama menjalin hubungan rasanya rasa cinta Naya pada Andika seolah selalu bertambah setiap harinya karena perlakuan seorang Andika. Masih teringat dengan jelas di ingatan Kanaya, saat Andika menyatakan cinta padanya , melamarnya di saat hari ulang tahun Andika, hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah. Tiba - tiba Naya terkekeh pelan, saat ingat sebelum ia sampai di cafe, ia harus berpura - pura tidur dan menunggu orang rumah terutama sang mama lengah agar ia bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Bukan tanpa alasan, Kanaya dan Andika akan menikah tiga hari lagi, jadi mama Naya melarang Naya dan Andika bertemu hingga hari pernikahan tiba, namun karena rasa rindunya pada pujaan hatinya, Naya dan Andika akhirnya memutuskan untuk bertemu. Andika tersenyum mendengar ucapan calon istrinya itu. " Terimakasih sayang, sudah hadir di hidupku " ucap Andika dengan senyumnya. " Setelah ini, kita akan selalu bersama, membayangkan saja aku sudah bahagia banget " ucap Andika lagi. Naya tersenyum dan tersipu mendengar ucapan Andika, hingga akhirnya pesanan mereka tiba, membuat obrolan keduanya terhenti, kemudian keduanya mulai menyantap makanan yang sudah di pesan. " Sayang, gimana bisa lepas dari mama " tanya Andika di sela mereka menikmati makanan mereka. " Mama sibuk di belakang jadi aku secepatnya kabur ke depan " jawab Naya tertawa pelan. " Gimana ntar aku ngadepin mama, karna udah nyulik anak perempuan nya " ucap Andika yang membuat keduanya tertawa bahagia. Setelah beberapa saat, Naya sudah berada di dalam mobil Andika, karena tadi Naya menggunakan taksi saat menuju tempat dimana dirinya berjanji akan bertemu Andika. Andika mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena kini satu tangannya memegang kemudi, satu tangannya menggenggam tangan Naya, sementara Naya menyandarkan kepalanya di bahu Andika. " Sayang, udah mau nyampe ya " ucap Naya cemberut. " Sabar ya, setelah ini kita akan selalu bersama, nggak perlu nahan rindu lagi " ucap Andika, ia menghentikan mobilnya di tepi jalan. " Kok berhenti? " tanya Naya. Andika menatap kekasihnya itu dengan tatapan penuh kerinduan, " Aku mau natap calon istri ku sampe puas dulu sebelum aku antar ke orang tuanya " jawab Andika. Dan hal itu sukses membuat wajah Naya memerah karena tersipu. " Sayang, tatap aku " ucap Andika karena kini Naya menunduk. " Malu.. " Cicit Naya. Andika tertawa bahagia, ini yang ia sukai dari seorang Kanaya Amelia Hartono, Naya mudah tersipu sehingga terlihat sangat menggemaskan di mata Andika. " Sayang " ucap Andika, terlihat tangan Andika sudah berada di tengkuk Naya, perlahan tapi pasti wajah Andika mendekat pada wajah Naya, Triiingg!!! Sebuah deringan ponsel menghentikan aktivitas keduanya, ponsel Andika berdering, terlihat Andika meraih ponselnya yang berada di sakunya. " Siapa? " tanya Naya saat Andika melihat layar ponselnya. " Nomor iseng kayaknya sayang, nggak ada namanya " Jawab Andika. Belum sempat menyimpan kembali, ponselnya, sebuah pesan masuk, Andika melihatnya sekilas, lalu memasukkan ponselnya dengan cepat ke dalam sakunya. " Sa sayang, aku antar pulang ya, takut mama marah " ucap Andika. " Masih kangen " ucap Naya manja. Andika tersenyum masam, tidak tau kenapa suasana hatinya tiba - tiba berubah. " Sabar ya, nggak lama lagi " ucap Andika, lalu mencium kening Naya dengan sayang. " Sayang, kok aku ngerasa kamu..." ucap Naya memperhatikan wajah Andika. Andika tersenyum, " Nggak apa - apa sayang, kayaknya aku cuma capek dikit " ucap Andika. " Ya udah, aku antar kamu dulu ya, aku harus balik kantor lagi soalnya " ucap Andika. Naya mengangguk menyetujui ucapan Andika, hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh Andika berhenti di depan kediaman Hartono, namun tidak sampai masuk ke dalam halaman rumah. " Sayang, nggak apa - apa kan aku antar sampe sini, aku ada urusan mendadak, jam nya mepet " ucap Andika. " Hem? " ucap Naya seraya mengernyit kan alisnya. " A, aku, aku baru ingat, aku ada jadwal bertemu klien, takut kena marah papa juga " ucap Andika terbata. Ya, Andika seorang calon CEO di sebuah perusahaan yang bisa di katakan lumayan besar, karena perusahaan itu adalah perusahaan keluarga yang turun temurun, yang saat ini masih di pegang kendali oleh papa Andika, sementara Andika saat ini sedang dalam masa pelatihan oleh sang papa, agar ia bisa di lepas dengan keadaan benar - benar matang, karena sudah bisa di pastikan perusahaan itu setelah ini akan di serahkan pada Andika. " Ya, ya sudah, aku turun dulu " ucap Naya yang segera turun dari mobil. Setelah Naya turun dari mobil , tanpa berkata apapun lagi, Andika langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Kanaya memegang dadanya yang tiba - tiba merasa nyeri. " Nggak Naya, kamu terlalu overthinking" ucap Kanaya berbicara sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN