BAB 5

1052 Kata
Naya dan Shaka duduk berdampingan di kursi akad yang sudah di sediakan, terlihat adik perempuan Shaka membawa sebuah kotak perhiasan yang berisi dua cincin lalu di letakkan di hadapan Naya dan Shaka tanpa berkata apapun. Begitu juga Shaka, dari awal Naya turun hingga duduk di sampingnya Shaka tak mengucapkan sepatah katapun pada Naya. Sesuai arahan dari penghulu, Shaka meraih tangan Naya lalu ia pasangkan cincin di jari manis Naya, begitu juga sebaliknya, namun belum sampai cincin terpasang sempurna di jari manis Shaka, tiba - tiba.. " NAYA! HENTIKAN! " Teriak seseorang dari ambang pintu. Tentu saja semua menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata kini Andika Winata berdiri di ambang pintu dengan nafas terengah - engah. Tatapan Naya dan Andika bertemu. " Hentikan Naya " ucap Andika lagi. Namun bukannya berhenti Naya justru kembali menatap tangan Shaka dan lanjut memasangkan cincin untuk Shaka dengan sempurna. " Naya, sayang, aku sudah datang, maaf terlambat " ucap Andika dengan suara lembutnya seolah di sana hanya ada dirinya dan Kanaya saja. Andika hendak menyentuh tangan Naya, namun dengan gerakan cepat Naya menarik tangannya, sehingga membuat Andika tersentak kaget dengan reaksi Naya. " Sa, Sayang " ucap Andika terbata. " BUGH! " Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Andika, sehingga membuat semua yang ada di sana menjerit. " Dika, Dika bangun nak " ucap Bu Dina membantu putranya bangun, tidak tau sejak kapan Pak Roby dan Bu Dina sudah berada di kediaman Hartono lagi. " Masih berani kau muncul di sini pria b******k! cari mati hah! " ucap Gio murka. Ya, pelaku yang memberikan bogem mentah pada Andika adalah Gio, dari awal Andika masuk, Gio sudah berusaha menahan diri untuk tidak menghajar Andika, namun saat melihat Andika seolah tidak menganggap keberadaan suami Naya bahkan berusaha menyentuh tangan sang adik, Gio tak bisa menahan diri lagi. Bahkan kini terlihat Gio ingin kembali menghajar Andika, namun di tahan oleh Najwa. " Ini urusanku dengan Kanaya kak, tolong kak Gio jangan ikut campur " ucap Andika. " Jangan ikut campur matamu! sialan! " ucap Gio marah. " Kau lihat, di sini ramai, banyak para undangan, kau belum hilang ingatan kan, kenapa mereka semua bisa berada di sini " ucap Gio dengan suara lantang. Gio tak perduli dengan harga dirinya, tak perduli jika saat ini ia dianggap mempermalukan diri, yang jelas Gio akan mengejar siapapun yang berani menyakiti adik kesayangannya. Terlihat Andika tiba - tiba diam membeku mendengar ucapan Gio. " Kau lihat, di samping adikku , matamu belum buta kan, di samping adikku, dia suami Kanaya, kau ingat ya, dia suami Kanaya! " ucap lagi menekan kalimat terakhirnya. Hingga akhirnya Andika baru sadar siapa yang duduk di samping Naya calon istrinya, lebih tepatnya mantan calon istrinya. " Mas Shaka! " ucap Andika saat melihat pria yang duduk di samping Kanaya. Andika sangat ingat dan tau betul siapa Shaka, yakni sepupu jauhnya, katanya keluarga nya, Shaka ini anak dari sepupunya sang papa papa, Andika tidak tau pasti silsilahnya tapi yang pasti Andika tau jika pria yang kini menggantikan posisinya adalah Shaka. Shaka hanya menatap Andika tanpa ekspresi, seperti biasa dingin dan datar, dan bahkan terlihat enggan menjawab Andika. " Ma, ini kenapa bisa Mas Shaka yang di sana " Protes Andika pada Bu Dina sang mama. " Ma, mama juga nggak tau nak " ucap Bu Dina yang memang tidak tau apa yang terjadi setelah ia pergi menyusul Andika. " Mbak Elin, maaf, bisa di jelaskan ini? " tanya Bu Dina pada Bunda Elin. " Maaf Tante, tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, kalau pun ada yang ingin tante tanyakan, tanyakan saja pada anak tante sendiri " ucap Naya pada Bu Dina. Hati Bu Dina merasa sakit saat mendengar Kanaya menyebutnya dengan panggilan tante, padahal sebelum nya Kanaya memanggil nya dengan sebutan mama. " Naya sayang " ucap Bu Dina, terlihat ia ingin mendekat ke arah Naya, namun belum sampai, " Kak Dika, Kak Naya " ucap seorang Wanita cantik yang terlihat usianya tidak jauh berbeda dengan Naya. Naya menoleh, saat mendengar namanya di sebut, namun Naya langsung memalingkan wajahnya saat melihat siapa yang datang. " Loh, Amira! kapan kamu datang nak " ucap Bu Dina senang saat melihat anak angkatnya datang. ---------- Amira Putri Winata, berusia dua puluh lima tahun, seorang anak perempuan yang diangkat dari panti asuhan oleh kedua orang tua Andika, saat usianya sudah menginjak dua belas tahun. Bu Dina dan pak Roby yang hanya memiliki satu orang anak yakni Andika, memutuskan untuk mengangkat anak dari panti asuhan, awalnya keduanya berniat mengangkat atau mengadopsi seorang bayi, tapi saat tiba di panti, Bu Dewi tertarik pada sosok Amira Putri, yang saat itu terlihat anggun dan pendiam, sehingga sejak saat itu kehidupan Amira berubah, ia tinggal bersama Bu Dina, Pak Roby dan Andika yang saat itu sudah berusia empat belas tahun, namun meski di angkat saat usianya sudah dua belas tahun, limpahan kasih sayang dari keluarga barunya membuat Amira tak ingin berbagi kasih sayang kedua orang tua dan kakaknya dengan siapapun termasuk yang dekat dengan Andika. Namun saat Andika mengatakan pada keluarga nya memiliki kekasih dan akan meminangnya Amira tidak bisa berbuat apapun karena melihat mama dan papa angkat nya terlihat bahagia, bahkan ingat dengan jelas jika kedua orang tua angkatnya itu berkata jika setelah kakaknya menikah nanti Amiralah yang hanya akan menjadi pelipur lara mereka. Tapi siapa sangka, hati Amira tidak sebagus namanya, rasa sayangnya pada kakak laki - lakinya tanpa di sadari menjadi sebuah obsesi untuk tidak pernah melepaskan sang kakak pada siapapun termasuk pada seorang Kanaya yang sudah jelas - jelas Amira tau jika Kanaya adalah calon istri kakak laki - lakinya. Amira yang putus asa karena tidak memiliki celah untuk memisahkan sang kakak dengan Kanaya meminta ijin kuliah di luar kota pada orang tuanya, dengan dalih ingin memperdalam ilmunya agar bisa meraih cita - citanya dengan berat hati Pak Roby dan Bu Dina serta Andika mengijinkan, namun tanpa Bu Dina dan pak Roby tau, Andika sering mengunjungi sang adik saat Amira merengek berkata ia sedang sakit, dan saat Andika datang Amira selalu meminta Andika tidak mengatakan tentang dirinya karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir, dan karena menurut Andika masuk akal, maka ia menuruti permintaan adik perempuan nya itu. ---------- " Oh, sudah berani muncul rupanya " ucapnya Kanaya tiba - tiba. Sehingga membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah Kanaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN