Beberapa hari sebelumnya. Hari ketiga April Koma. “ini sudah tiga hari, tapi belum ada tanda kamu membuka mata.” Ucap Yoga masih menggenggam tangan istrinya. Yoga hampir mati waktu itu saat April benar-benar kejang, deteksi jantung menurun. Asa sudah diambang batas, dirinya bahkan bertingkah tak waras, jika saja tidak ada Riefaldi menahannya. Seperti meninggalkan trauma, Yoga tidak pernah sedikit pun mau meninggalkan ruangan April. Kecuali untuk mandi, makan dan menjalankan lima waktu, sesekali menengok anaknya, itu pun jika dia pastikan ada yang gantian menjaga April. Papa datang untuk mengantar makanan dan pakaian bersih untuk menantunya, tidak bisa berkomentar banyak. “Setidaknya April mulai stabil, anak kalian juga, perkembangannya jauh lebih baik.” Yoga mengamati monitor, “