⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+)
Novel ini mengandung konten pornografi eksplisit, deskripsi anatomis yang sangat gamblang, adegan seksual yang intens, bahasa kasar, dan komedi erotis d***o. Segala tindakan dalam cerita ini adalah fiksi dan hanya ditujukan untuk pembaca dewasa.
Gedung Multimedia lantai tiga kini benar-benar sunyi senyap. Langkah kaki Donald, Jessica, dan Arron sudah tidak terdengar lagi, mungkin mereka sudah menjauh menuju parkiran sambil membicarakan bau stroberi busuk Sam. Namun, di dalam Lab Multimedia 1, tepatnya di bawah kolong meja server yang sempit dan berdebu, suasana justru bermutasi menjadi medan tempur gairah yang menyesakkan.
Samuel Wijaya duduk bersandar pada tiang besi meja server dengan napas yang sungsang-sumbel. Posisinya benar-benar d***o: kemeja sekolahnya sudah acak-acakan, sementara bagian bawahnya hanya tertutup sebelah oleh celana olahraga biru yang baru dipakainya satu lubang kaki. Kaki kirinya yang telanjang mencuat keluar, memperlihatkan "si Joni" yang masih dalam kondisi lebam ungu sisa tragedi podium, tapi kini justru kembali tegang dan berdenyut di bawah kendali bibir Sari.
Sari Rahayu, sang ikon kesantunan sekolah, kini berada dalam posisi yang sangat tidak santun. Ia bersujud di hadapan s**********n Sam yang ngangkang pasrah. Hijab putihnya miring, memperlihatkan beberapa helai rambut yang basah oleh keringat. Tangannya yang lentur menggenggam batang Joni yang besar, sementara mulutnya melumat kepala Joni yang ungu dengan ritme yang mematikan.
"Mmmphhh... mmmhh..." Sari menghisap kepala Joni dengan suara basah yang nyaring.
"Aaaah... S-Sari... duh, pelan-pelan Sar... itu masih sakit, ngilu d***o!" Sam merintih, kepalanya mendongak membentur papan meja. "Tapi... ahh... babi lah, enak banget... mmmh!"
Di sisi kanan Sam, Seli duduk bersimpuh dengan napas yang memburu. Matanya yang bulat menatap gerakan bibir Sari pada aset sahabatnya dengan rasa iri yang membakar. Seli, yang tadi pagi di angkot sudah sempat "memegang", kini merasa kecolongan besar oleh si betina berhijab ini.
"Eh Betina Kurap! Berhenti lu!" Seli akhirnya meledak. Ia mendorong bahu Sari dengan kasar sampai kepala Sari terlepas dari Joni Sam. "Lu bener-bener gak punya malu ya, Sar?! Dia itu kesakitan, d***o! Liat tuh warnanya sampe ungu gitu, masih aja lu paksa! Dasar haus s*x!"
Sari menegakkan punggungnya, menyeka bibirnya yang basah dengan punggung tangan, lalu menatap Seli dengan tatapan dingin. "Eh t***t rata! Justru karena dia sakit, dia butuh diobati, Sel. Dan lu liat sendiri kan? Sam menikmatinya sampai matanya juling. Lu jangan munafik deh. Dari tadi mata lu nggak lepas dari sini. Lu juga mau kan hah?!"
Wajah Seli memerah padam, ia mulai gerogi panik. "Gua... gua... Gua cuma nggak mau dia kenapa-napa! t***l lu Sari! Lu juga samanya, Sam!!! Lu kenapa nggak berontak, t***l?! Lu cuma mau dimanfaatin sama betina kedok hijab ini!"
Sam panik gelisah, tangannya gemetar. "Duuuuh Sel... lu... tuh lu... aah gua gak bisa konsentrasi... Sar udah ya... stop besok aja di tempat lain kalau Jono gua sembuh... gua... gua kasih deh..."
PLAK! Seli menoyol kepala Sam sampai mentok kaki meja. DUUK!
"ANJING SAKIT t***l!" teriak Sam sambil memegangi kepalanya.
"Lu yang g****k Sam, g****k!" Seli mengumpat dengan tantrum.
Tiba-tiba tangan Sari bergerak cepat menutup mulut Seli. "Hei betina kadal... lu bilang gua manfaatin?" Sari tertawa kecil, suara tawa yang manipulatif. "Seli, dengerin ya. Ijazah kalian, masa depan kalian, ada di tangan gue. Kalau gue nggak mau buka pintu ini, atau kalau gue cerita ke Pak Hartono soal adegan mesra kalian tadi... dan gue ada buktinya!"
Sari mengeluarkan ponsel dari balik saku roknya, memperlihatkan foto saat Seli sedang memegangi Joni Sam yang telanjang tadi. "Gue punya foto kalian di bawah meja. Sekali pencet 'kirim' ke grup sekolah, kalian berdua habis riwayatnya. Seli, kamu bakal malu dan Sam bakal malu tujuh turunan hihihi..."
"Sariiiii... laknat lu!" ucap Seli gemetar. "Lu bener-bener..."
"Udah Sel, udah... turutin aja!" ucap Sam pasrah.
"Turutin pala lu!" Seli yang geregetan langsung mencekik leher Sam.
"SEL... SEL... AAAARGHH... LEPASIN... GUA MATI DULUAN SEBELUM n*****t INI!" Sam megap-megap.
"Sudah, sudah..." Sari memisahkan mereka. Ia menatap Sam yang masih terbatuk-batuk. "Dan buat kamu, Sam... kamu harus milih. Mau lanjut sama aku, atau mau Seli yang gantiin? Atau... kita main bertiga?"
"HAH APA?!" Seli dan Sam saling tengok dengan wajah d***o.
"Enak di lu k****l astrea!" umpat Seli ke Sam.
"Eh anu gua gak bilang iya, t***l!" balas Sam bela diri.
"BERISIK!" bentak Sari. "Gini... aku kasih tawaran. Kita bermain bertiga. Aku tau Sel, nggak usah munafik lu juga mau k****l Sam kan? Lu dari tadi udah rembes kan?"
"Eh anu... bukan gitu betina sialan..." Seli jaim, tapi matanya melirik Joni Sam yang berdenyut. "Tapi... tapi... AAAH SAM SIALAN!"
PLAAAK! Seli menampar pipi Sam lagi.
"ADUUUH b*****t! SAKIT t***l! KOK GAMPAR GUA, SELI SETAN?!"
Sari tertawa terbahak-bahak. "Seli, Seli... sekarang fokus. Aku mau kita main serius. Aku haus, Sam... aku mau ngerasain Joni lu di dalam sini." Sari menunjuk ke arah selangkangannya yang masih tertutup rok.
Sam menelan ludah. "Tapi Sar... si Joni lebam... gua takut patah..."
"IYA IYA IYA! LEBAM PASTI PATAH! BENGKOK KAYA PORTAL GANG!" Seli menimpali dengan nada kesal tapi wajahnya memerah b*******h.
"Nggak akan patah kalau porsinya pas," bisik Sari. Ia mulai membuka kancing seragamnya satu per satu. "Sam, buka celana olahraga lu yang cuma sebelah itu. Seli, kalau lu masih jaim, silakan nonton aja."
Sari memulai aksinya dengan gerakan sensual yang terencana. Perlahan, ia membuka kancing seragam putihnya satu per satu. Saat kancing terakhir lepas, ia menyibakkan kain kemejanya, memperlihatkan bra putih renda yang sudah tidak sanggup menahan beban payudaranya yang padat. Sari kemudian menjangkau ke belakang, melepas pengait bra-nya—CEKLEK—dan membiarkan kain itu jatuh.
"Buset... teteknya... pink banget pentilnya..." gumam Sam dengan mulut menganga. p******a Sari yang kuning langsat mencuat indah, dengan p****l yang sudah mengeras seperti kelereng karena gairah.
Seli, yang melihat itu, langsung tantrum. "EH j****y! Nggak usah pamer lu! Sam, jangan diliatin! Matanya dijaga, anjing!" Namun, tangan Seli sendiri gemetar. Rasa gengsinya kalah oleh rasa saing. "Gua juga bisa! Liat nih!"
Seli dengan beringas merobek kancing bajunya sendiri sampai ada yang copot melenting. Ia melepas bra pink-nya dengan kasar. Seketika, dua "bola basket" milik Seli yang lebih besar dan berisi dibanding Sari memantul di depan wajah Sam. p****l Seli lebih gelap dan besar, tampak sangat sensitif.
"Liat Sam! Punya gua lebih empuk kan?! Jauh lah sama si Sari yang kenceng doang tapi porsinya dikit!" teriak Seli sambil meremas payudaranya sendiri di depan muka Sam.
Belum sempat Sam menjawab, Sari sudah berdiri setengah jongkok untuk melepas rok panjangnya. Ia menurunkan ritsleting roknya—SREEET—lalu mendorongnya jatuh ke lantai. Terpampanglah k****t putih tipis yang sudah basah kuyup di bagian tengah. Sari memasukkan jarinya ke sela k****t, menariknya ke bawah secara perlahan, memperlihatkan m***k-nya yang sangat mulus, bersih tanpa bulu berlebih, dan berwarna merah muda segar yang sangat kontras dengan kulit kuning langsatnya.
"Sari... m***k lu... kok bisa se-pink itu?" Sam menelan ludah, matanya nggak bisa lepas dari lubang Sari yang sudah banjir pelumas.
"Punya gua juga pink, Sam! Cuma lebih berdaging!" Seli tak mau kalah. Ia menendang rok span-nya dan menarik k****t pink-nya sampai robek sedikit karena nafsu yang menggebu. m***k Seli tampak lebih liar, dengan labia yang lebih tebal dan berwarna sedikit lebih gelap, tampak sangat becek sampai cairannya menetes ke lantai keramik.
Kini, di bawah meja sempit itu, dua wanita telanjang bulat sedang memamerkan aset mereka. Sam terpaku d***o. Matanya pindah-pindah dari m***k pink Sari ke m***k "daging" Seli.
"Dua... dua memek... di depan muka gua..." Sam hampir pingsan.
Sari segera mendorong Sam untuk tiduran di lantai. "Sam, tiduran lu babi! Seli, lu jilat dadanya atau apa kek, gua mau eksekusi bawahnya dulu!"
Sari merangkak naik ke atas s**********n Sam. Ia meraih Joni Sam yang besar dan berurat ungu itu. "Duh Sam... lebamnya bikin makin keliatan sangar. Aku masukin ya... mmmh!"
Sari memposisikan lubangnya tepat di atas kepala Joni. Perlahan ia menurunkan pinggulnya.
SLUPPP...
"AAAHHHHHHH!!!!" Sam menjerit saat merasakan kehangatan yang sangat menjepit. Rasa perih lebam di kepalanya seketika berubah jadi gelombang nikmat yang menyengat saraf otaknya.
Sari mulai menggenjot dengan beringas. PLOK... PLOK... PLOK... Suara p****t Sari yang menghantam paha Sam terdengar sangat vulgar di ruangan yang sepi itu. "Aah... Sam... sempit banget... mmmh... Joni lu kerasa banget ampe dalem rahim... aaah!"
Seli yang tadinya jaim, kini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Melihat Sari asyik mengenjot sahabatnya, Seli merangkak maju dan menempelkan m***k-nya yang becek tepat ke mulut Sam.
"Sam! Jangan cuma dia yang dikasih enak! Jilat punya gua! Sekarang, anjing!" Seli menekan selangkangannya ke wajah Sam, memaksa Sam untuk melumat lubangnya yang sudah banjir.
Sam sekarang benar-benar berada di surga d***o. Di bawah, Jononya dihajar genjotan Sari, sementara di atas, wajahnya dibekap oleh m***k Seli yang harum keringat gairah. Sam mulai menjilat k******s Seli dengan liar, sementara tangannya refleks meremas p****t Seli dengan kencang.
"Seli! Jangan kenceng-kenceng neken m***k lu ke hidung gua... Gua gak bisa nafas bego...!" teriak Sam dengan suara teredam sambil terus menjilati m***k Seli.
"Bodo amat! Lu liat tuh betina di belakang gua dia juga genjotnya kaya orang kesurupan! Sam itu Joni punya gua!" balas Seli sambil makin menekan m***k-nya ke mulut Sam. "Mmmmmm....." Sam tertekan, tapi lidahnya makin liar menyapu cairan Seli.
Sari semakin liar. Ia menarik salah satu tangan Sam yang sedang memegang t***k Seli dan memaksanya untuk meremas teteknya sendiri sebagai pegangan. t***k Sari bergoyang kencang mengikuti irama tubuhnya yang naik-turun. Genjotannya makin cepat, PLOK-PLOK-PLOK-PLOK! Cairan m***k Sari muncrat membasahi batang Joni yang ungu.
"Sam... aku mau crot... jepit terus Sam... mmmh!" Sari gemetar hebat dan akhirnya mencapai klimaks, "Hyaaaaa........ aaaaaahh.... SAM!!!!" Sari menyemprotkan cairan bening (squirt) ke paha Sam.
Sari mencabut Joni Sam dengan suara PLOP yang nyaring. "Aah enak sekali... Joni mu Sam... hihihihi... Seli kamu gak mau Joni Sam? Mau gantian gak!! Lu dari tadi cuma dapet lidah, sekarang cobain aslinya!"
Seli tidak menunggu lama. Ia melepaskan memeknya dari mulut Sam yang sudah banjir pelumas. Ia langsung nangkring di atas Joni Sam dengan wajah yang merah padam. m***k Seli yang berdaging tebal tampak sangat tegang, siap untuk dimasuki Joni Sam yang masih perkasa.
"Besar yaaa... Sam! Rasain punya gua! Lebih mantap dari si Sari!" Seli memegang batang Sam, lalu menghujamkan dirinya ke bawah sekuat tenaga.
CRAAATTT... "Aaaaaaaaaaaaahhh... Hiiyaaaa....."
SLLUUP... masuk sempurna.
"OOOHHHH SHIIITTT! SELIIII!" Sam berteriak. Tekanan dari m***k Seli yang berdaging sempit terasa lebih panas dan menjepit kencang. Seli menggenjot dengan gaya beringas, pantatnya menghantam paha Sam berkali-kali sampai suaranya makin basah karena cairan mereka sudah banjir di lantai. PLOK-PLOK-PLOK-PLOK!
"Aah... aah... terus Sam! Terus genjot! Jangan mau kalah sama si betina hijab itu gua aaaaah Sam!" Seli merintih sambil mencakar d**a Sam, wajahnya memerah padam antara malu dan nafsu gila.
Sari kini berpindah ke atas wajah Sam. "Sam nikmati nih..." Ucap Sari membiarkan Sam menyedot p****l payudaranya yang sudah mengeras. "Mmmh... terus Sam... sedot yang kenceng..."
Sam merasa sudah di ujung tanduk. Jononya yang ungu berdenyut sangat keras di dalam rahim Seli. Genjotan Seli semakin liar, PLOK-PLOK-PLOK semakin kencang. Dengan satu sentakan kuat dari pinggulnya, Sam mencengkeram p****t Seli dan meledakkan seluruh muatan spermanya.
"AAAAAAHHHHHHHHHHHH!!!!!!"
Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam Seli, "Aaaaaaaaah... Sam .....caaaah... hangat......"
Seli kejang-kejang nikmat merasakaan rahimnya diguyur p**u panas Sam, lalu ia ambruk menindih d**a Sam yang bidang. Mereka bertiga terkapar lemas di bawah meja server, mandi keringat dan cairan cinta, sementara ijazah mereka tergeletak tak berdaya di pojok ruangan, terlupakan dalam kabut gairah.
BERSAMBUNG