Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Rama. “Mas Rama… sarapan sudah siap,” suara Mbak Intan terdengar lembut dari luar. Rama membuka pintu beberapa detik kemudian. Bekas memar di wajahnya masih samar terlihat, meski sudah tak terlalu mencolok. Ia berjalan menuju ruang makan dengan langkah biasa, mencoba menyamarkan sisa lelah yang belum sepenuhnya hilang. Aroma nasi goreng dan teh hangat menyambutnya. Di meja makan, Mila sudah duduk rapi dengan cardigan tipis membalut tubuhnya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Wajahnya masih pucat, tapi senyumnya tetap hangat seperti biasa. “Pagi, Rama,” sapanya lembut. Rama berhenti sejenak, lalu mengangguk kecil. “Pagi, Kak.” Damar duduk di samping Mila, sudah mengenakan setelan jas yang rapi. Wajahnya serius seperti biasa sebelum b

