Abi melangkahkan kaki menuju dapur—tempat Naya sedang berkutat bersama pengasuh anaknya. Pria itu menghentikan langkah ketika tiba di ambang pintu yang menghubungkan dapur yang menyatu dengan meja makan—dan ruang tengah yang tidak begitu luas. Sepasang mata di balik kaca mata itu menatap tubuh Naya yang terlihat sedang sibuk memotong sesuatu. Di sampingnya, ada Anik yang juga terlihat sedang memegang pisau. “Bawangnya dipotong, atau dicincang, Bu?” Naya menoleh—mendapati Anik yang mengacungkan bawang putih, dengan pisau di tangan kanan. “Di geprek saja, 5 siung—pilih yang cukup besar. Bawang bombainya dipotong tipis.” Lalu Naya kembali memutar kapala—menunduk, kemudian sibuk dengan entah yang ada di hadapannya. “Ibu sudah lama jago masak?” Kening Nanya mengernyit, sebelum kemudian menja