Dalam perjalanan pulang, Ricardo mengemudi, sementara Ella dan Helena berbincang di kursi belakang. Ella tidak ingin memadamkan sedikit cahaya yang mulai muncul di mata Helena, tapi ia tidak punya pilihan. Helena baru berusia 19 tahun, namun sudah terlalu banyak menderita di tangan kakaknya yang b***t itu. Sambil menghela napas, Ella memulai:
“Helena, aku harus memberitahumu sesuatu. Dan aku benar-benar minta maaf.”
“Ella, kamu membuatku takut.”
“Kau tahu kan… di dunia kita, perempuan muda tidak dibiarkan sendiri terlalu lama?”
Mendengar itu, wajah Helena langsung pucat, dan air mata mengalir di pipinya.
“Ella, ayahku sudah berjanji bahwa aku tidak akan dinikahkan lagi. Tidak setelah semua yang kulalui di tangan kakakmu. Aku tidak pantas merasakan itu lagi. Tidak ada perempuan yang pantas. Dan tidak ada siapa pun yang bisa memaksaku untuk melalui hal itu lagi. Aku menolak menikah lagi.”
“Helena, aku sangat menyesal, tapi bahkan ayahmu tidak bisa memutuskan itu. Kamu juga tidak. Kamu… sudah menikah.”
Helena tertawa.
“Tidak mungkin, Ella. Aku tidak menikah dengan siapa pun.” Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa di dunia mereka, hal itu sangat mungkin terjadi.
“Kamu menandatangani beberapa dokumen setelah kematian kakakku, bukan?”
“Iya, aku menandatanganinya. Oh Ella… bagaimana aku bisa sebodoh itu?” Ia mulai menangis lagi.
“Aku lebih baik mati. Aku akan mengakhiri hidupku sebelum membiarkan lelaki lain menyentuhku lagi.”
“Kamu tidak bisa. Dia menyuruhku menyampaikan pesan ini: jika kamu mencari cara untuk menghindar darinya, adikmu yang akan menggantikanmu.”
“Oh Tuhan, Ella… dia bahkan belum 16 tahun. Pria macam apa yang tega memaksa gadis sekecil itu?”
“Aku tidak tahu. Laki-laki di dunia kita punya cara berpikir yang aneh tentang kehormatan dan moral. Helena, aku minta maaf harus jadi pembawa kabar ini, tapi lebih baik aku yang bilang daripada dia.”
Saat itu juga, tubuh Helena bergetar. Tanpa Ella menyebutkan namanya, ia tahu siapa pria yang kembali merampas kebebasannya. Siapa yang akan mengubah hidupnya menjadi neraka sekali lagi. Jika Otávio mampu menundukkannya, Stefano akan menghancurkannya.
“Kapan aku harus… ikut dengannya? Apa aku setidaknya punya satu malam lagi untuk tenang?” tanya Helena sambil tersedu.
“Aku… tidak tahu. Kurasa tidak.”
Selama sisa perjalanan, Helena bertanya-tanya apa yang sudah ia lakukan untuk pantas menerima nasib sekejam ini—apa yang membuatnya tidak layak mempertahankan kewarasannya, atau tubuhnya yang seharusnya dihargai dan tidak penuh luka.
Ketika mobil akhirnya berhenti di tempat yang sebentar lagi bukan lagi rumahnya, Helena berpamitan pada Ella dan turun. Tapi saat ia menatap ke depan—di sanalah dia. Mimpi buruknya dalam bentuk manusia. Stefano mengenakan pakaian hitam dari kepala sampai kaki, wajahnya keras seperti batu, tidak bergerak, dan bekas luka di pipinya membuatnya semakin menakutkan di mata Helena.
Melihat pria yang kini ia ketahui sebagai suaminya, Helena masih menangis—bukan lagi tangis terisak di dalam mobil, tapi tangis diam seorang perempuan yang menderita dan takut terhadap pria di depannya.
Stefano membuka pintu mobil dan memberi isyarat agar ia turun. Helena, yang telah belajar untuk patuh dengan cara paling kejam, keluar tanpa menoleh. Ia tidak peduli pada barang-barangnya—pakaiannya, apa pun yang ia miliki; semuanya tidak lagi berarti. Krim rambut yang baru ia beli setelah tiga tahun, pakaian barunya, bahkan sekotak cokelat yang akhirnya bisa ia beli—semua itu tak punya nilai lagi sekarang. Pria yang mengemudikan mobil itu kini juga akan mengendalikan hidupnya. Tinggal dilihat apakah ia akan seburuk Otávio… atau lebih buruk. Hanya dengan membayangkan malam dalam pelukan Stefano membuat tubuhnya menggigil ketakutan. Dari semua hal, ia tidak pernah menganggap pria itu jelek—tetapi ia takut padanya sejak pertama kali bertemu.
Saat mobil berhenti, Helena berharap sekuat tenaga untuk mati saja. Ia duduk di lantai mobil dan meringkuk; ia tahu itu tidak ada gunanya. Stefano bisa dengan mudah menariknya keluar, tapi ia tidak punya kekuatan untuk turun, jadi ia tetap di sana. Ia sadar pintu sudah dibuka, dan Stefano pasti berdiri menunggu ia keluar, tetapi Helena tetap bergulung, sadar ia pasti terlihat menyedihkan—bahkan konyol—di mata pria itu. Tapi Tuhan… ia begitu takut padanya. Ia hanya ingin dibawa kembali, jauh dari situ.
Pikirannya buyar saat mendengar suara Stefano; ia belum pernah mendengar suara serau dan berat seperti itu.
“Turun. Aku biasanya tidak mengulang perintah, gadis kecil. Jadi kau harus bersikap baik jangan membuat masalah.”
Mendengar itu, Helena memaksakan diri berdiri dan langsung didorong menuju pintu masuk rumah. Ia melewati halaman tanpa memperhatikan apa pun. Hanya ketika sampai di semacam ruang tamu ia duduk di sofa dan kembali meringkuk.
Stefano bertanya-tanya kehidupan macam apa yang sudah dijalani perempuan itu beberapa tahun terakhir hingga ia tampak seperti seseorang yang lari dari monster. Ia tahu dirinya memang menakutkan, namun bagi seorang wanita bereaksi seperti itu terhadap seorang pria—bahkan dalam situasi seperti ini—berarti ia pasti punya ketakutan yang sangat dalam terhadap laki-laki. Stefano menghela napas panjang dan memutuskan keluar rumah; ia tidak ingin kehilangan kesabaran dan melakukan sesuatu yang akan ia sesali kemudian.
Helena tetap di sana, meringkuk, dan ketika ia sadar pria itu sudah pergi, ia mengambil selimut dari ujung sofa dan membungkus dirinya. Ia menangis hingga tak ada lagi air mata yang tersisa. Kelelahan menguasainya, dan akhirnya ia tertidur.