Lucy masih terus menghujani pipinya dengan airmata. "Tidak! Bagaimana bisa aku tenang sekarang?! Si berengsek itu meninggalkanku sendiri! Aku tidak terima!" "Sttt tenanglah..." Sarah menyandarkan kepala Lucy di pundaknya. "Dia seharusnya tidak melakukan ini padaku, Sarah... " ucapnya lemas. Lucy semakin mempererat pelukannya, merasakan hatinya benar-benar sakit, mungkin dengan semakin mendekatkan hatinya pada hati Sarah, perasaan menyesakkan itu akan sedikit berkurang. Sarah yang dipeluk seerat itu semakin sedih, seolah-olah semakin erat pelukannya membuktikan semakin sakitnya hati temannya. Sarah ikut merasakan sesak itu dan terus mengelus pelan pundak yang rapuh itu. "Siapa yang harus menemaniku mengurus anak-anak selain ayah mereka?!" lirih Lucy di sela isak tangis memilukannya. Sa

