Banyaknya orang berlalu-lalang membawa berkas di masing-masing tangan. Suara hak tinggi, pantofel pria dan sebagaiannya terdengar cukup ramai. Hanya satu ruangan yang sangat damai dan sepi, ruangan sang direktur utama sekaligus pemilik saham terbesar yang ada. Tok... tok... tok... Setelah dijinkan untuk masuk, tangan kanannya langsung membuka pintu untuk memperingati. "Tiga puluh menit lagi rapat akan dimulai." Setelah mengucapkan hal tersebut tanpa menunggu respon tuannya ia kembali pergi sementara tuannya sibuk membaca berkas yang harus ia periksa. Drrt.... drrt.... drrt.... Ponsel pribadinya berdering, ia melirik sekilas, tanpa nama. Pria itu tidak mempedulikannya masih membaca berkasnya dengan seksama. Bagaimana bisa nomor pribadiku diketahui publik? Pria itu kemudian mengambil

