Marsha menunggu Kalandra selesai menelpon sambil duduk di salah satu bangku kayu panjang di sudut pasar, tepat di depan gerobak jajanan kecil yang aromanya menggoda sejak tadi. Di depannya tersaji gato piman, gorengan khas Seychelles berbahan kacang lentil yang dihaluskan, dicampur rempah, lalu digoreng sampai kulit luarnya renyah dan bagian dalamnya lembut pedas. Marsha menggigit satu, lalu berhenti sejenak, mengunyah pelan. Pedasnya ramah, gurihnya hangat, ada wangi daun bawang dan ketumbar yang samar. “Enak,” gumamnya. “Atau coba bikin ini ya di café yang baru?” Namun pikiran Marsha tidak ikut menikmati. Ia menatap orang-orang lalu-lalang, mendengar suara tawar-menawar, kain-kain berwarna cerah yang berkibar, dan musik pelan dari radio tua. Semua itu terasa seperti latar yang bergerak

