Separuh gambar wajah Wira jatuh ke lantai, tersobek rapi dari sisi wajah Lyora. Pria itu mengangkat potongan terakhir foto itu dan melemparkannya ke tempat sampah yang sudah dipenuhi serpihan-serpihan gambar lain—foto, dokumen, bahkan catatan. Semua milik keluarga Dirgantara. "Senyum itu tidak pantas ia miliki," gumamnya dingin. "Bukan setelah semua yang ia warisi. Bukan setelah semua yang telah mereka rampas dariku." Ia berbalik. Di seberang meja, seorang pria yang lebih muda duduk bersandar di sofa kulit hitam, mengenakan hoodie abu gelap, wajahnya sebagian tertutup bayangan, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Tatapan si pria yang lebih tua menyipit, menusuk. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan pria itu. Nada suaranya begitu tenang, namun mengand