“Ngga lo kejar?” tanya gue ke Bumi, usil aja sih. “Kali aja dia ngarep, nunggu di depan.” “Malah dipancing!” sambar Arial. “Jadian, putus, nikah, cerai, itu harus ikhlas, Yal. Ngga bisa setengah-setengah. Sekarang pisah, besok kisseu lagi.” “Nggalah, A,” tanggap Bumi. “Enough is enough. Abdi sudah mengabdikan diri untuk nunjukin sayang ke dia selama lima tahun. Sekali aja abdi ngga pernah ninggiin suara ke dia, ngga pernah ngasih complain soal apa pun soal pilihan dia meski abdi merasa disisihkan, ngalah saat dia marah. Jadi, kalau saat abdi kepingin ngehalalin dia dan dia malah nolak, ya sudah, berarti selesai.” “Itu kali salah lo, A,” ujar Anne. “Atuhmah harusnya lo marah kalau dia salah. Bener teu?” “Henteu!” Mas Rio memotong. “Itulah bedanya kaum adam dan hawa. Cowok, semakin dia