Curahan Hati Vivian

1143 Kata
Vivian masih bisa merasakan degup jantungnya menghantam dadanya, seolah tak mau tenang. Kedekatan tadi semuanya membuat wajahnya panas. Terlalu panas. Hans memperhatikan dengan saksama. “Vivian?” suaranya lembut, bingung. “Wajahmu merah sekali. Kamu sakit?” Vivian tersentak ketika Hans mengangkat tangan, hendak menyentuh keningnya untuk memastikan. Refleks, ia melangkah mundur cepat. “Ah! Ponselku… kayaknya ketinggalan,” katanya gugup sambil memutar badan hendak kembali ke dalam rumah. Namun baru dua langkah, sebuah bunyi nyaring terdengar dari tas kecilnya. Alarm ponselnya sendiri berbunyi. Hans mengerutkan kening. Vivian berhenti, memaksa senyum canggung. Ia merogoh tasnya dan mengangkat ponselnya. “Oh… ternyata nggak ketinggalan.” Hans hanya bisa menatapnya tanpa mengerti. Vivian buru-buru menambahkan, “Kalau gitu… kita berangkat sekarang, Om.” Tanpa menunggu reaksi, Vivian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, menatap lurus ke depan sambil berusaha menenangkan denyut dadanya. Hans, yang masih mencoba memahami sikap aneh itu, menggeleng perlahan. “Anak ini… kenapa pagi-pagi sudah aneh begitu?” gumamnya kecil, namun tetap masuk ke mobil, menutup pintu, dan menyalakan mesin. Mobil pun melaju meninggalkan rumah sementara di kursi penumpang, Vivian menggenggam tasnya erat-erat, mencoba menyembunyikan gemuruh yang masih belum mau berhenti. *** Mereka tiba di bank dalam suasana yang terasa terlalu cepat bagi Vivian. Begitu mobil berhenti, ia segera membuka pintu dan turun, berharap udara pagi bisa menenangkan detak jantungnya yang masih berantakan. Ia menarik napas panjang, memperbaiki tasnya, lalu berjalan masuk dengan mengatur ekspresi agar terlihat normal. Di mejanya, ia duduk dan menghembuskan napas pelan, mencoba menenangkan diri. Baru sebentar ia bersandar, pintu kaca bank terbuka dan Hans masuk dengan langkah percaya diri, menyapa para pegawai dengan senyum hangat. Semua membalas sopan, suasana berubah sedikit lebih hidup. “Vivian!” panggil Rina dari meja seberang. Vivian menoleh cepat. “Iya, Bu?” “Buatkan kopi untuk seluruh staf ya,” kata Rina tanpa basa-basi. “Eh?” Vivian terkejut. “Tapi… bukannya ada OB, Bu?” Rina mendekat, menundukkan kepala, berbisik dengan penuh tekanan, “Apa kamu mau mengadu sama om kamu? Hah? Karena aku menyuruhmu bikin kopi?” Vivian langsung menggeleng cepat. “Nggak, tentu saja nggak. Aku… aku akan buatkan.” “Bagus.” Rina kembali ke mejanya dengan senyum penuh kemenangan. Vivian menahan napasnya, menunduk, dan mengambil catatan jumlah staf. Ia kemudian berbalik menuju pantry. Sambil berjalan, pikirannya melompat-lompat. Namun yang paling terasa adalah tekadnya, ia tidak ingin orang menganggap ia dapat perlakuan khusus hanya karena Hans adalah pamannya. Ia membuka pintu pantry dan mulai membuat kopi satu per satu, mencoba menenangkan diri dengan aroma hangat yang memenuhi ruangan kecil itu. Namun degup hatinya belum juga mau tenang… terutama karena Hans ada di beberapa meter darinya. Vivian menata cangkir-cangkir kopi sambil mengingat jelas ucapan Deliana beberapa bulan lalu, tentang kopi kesukaan Hans. “Kopinya dua sendok, gula setengah. Jangan terlalu panas, Hans suka yang hangatnya pas.” Vivian tersenyum kecil. Setidaknya ada satu hal tentang Hans yang ia tahu lebih baik dari siapapun. Dengan teliti ia membuat kopi spesial itu, aroma lembutnya memenuhi pantry. Setelah selesai menyiapkan untuk seluruh staf, Vivian membagikannya satu per satu. Para pegawai tersenyum dan berterima kasih, beberapa bahkan memujinya karena rasanya pas. Setelah selesai, Vivian menyisakan satu cangkir terakhir, cangkir yang ia buat paling hati-hati lalu mengetuk pintu ruang Hans. Tok tok. “Masuk,” suara Hans terdengar. Vivian melangkah masuk, menunduk sopan. “Om… ini kopinya.” Hans menatap cangkir itu, lalu menatap Vivian dengan heran. “Kamu yang buat? Kenapa? Atasanmu yang nyuruh?” Vivian cepat menggeleng. “Nggak. Aku cuma… berinisiatif saja. Belum ada kerjaan, jadi kupikir membuat kopi bisa membantu.” Hans terdiam sejenak, lalu menghela napas berat. “Vivian… kalau mereka membully kamu, bilang ke Om. Om bisa—” Vivian buru-buru memotong. “Om, jangan terlalu memperhatikan aku. Aku mau kerja di sini lama. Kalau orang lihat Om terlalu membelaku, nanti aku nggak nyaman.” Hans menatap Vivian lama, lalu tertawa kecil. “Baiklah, baiklah. Kamu memang keras kepala.” Sebelum Vivian sempat membalas, ponsel Hans berbunyi notifikasi email. Hans membuka layarnya, dan matanya langsung berbinar. “Ah! Akhirnya,” katanya senang. “Paket liburan ke Paris-nya dapat! Terima kasih ya, Vivian. Om jadi tahu mau kasih apa ke Tante Delia nanti…” Hans tersenyum lebar. “Kalau pulang, Om bawakan kamu oleh-oleh.” Mendengar itu, Vivian merasakan dadanya sesak. Tak ada alasan logis, tapi rasa kesal dan perih itu muncul begitu saja. Paris. Liburan. Kebahagiaan semu Hans. Semuanya membuat Vivian ingin menjerit. Namun ia hanya menarik napas, menahan emosi. “Kalau begitu… aku kembali ke meja kerja,” ucapnya singkat. Vivian membalikkan badan sebelum Hans melihat wajahnya yang berubah. Ia menutup pintu perlahan, mengepalkan tangan. Bagaimana bisa Om-nya begitu yakin Deliana pantas diberi kebahagiaan sebesar itu… sementara Vivian tahu yang sebenarnya? *** Hari itu Vivian tidak masuk kerja karena jadwal kuliahnya. Di taksi menuju kampus pun pikirannya tidak berhenti berputar. Semua itu menggantung di kepalanya seperti awan gelap yang enggan pergi. Begitu tiba di kampus dan duduk di bangku taman, Vivian menatap kosong buku catatannya. Fokusnya berantakan. “Vivian!” suara ceria memanggil. Rachel, sahabatnya sejak awal kuliah, duduk di sampingnya sambil memperhatikan wajah Vivian dari dekat. “Kamu kerja terlalu keras, ya? Ya ampun… kenapa jadi kurusan begini?” Vivian mendengus pelan. “Jangan godain aku, Rachel.” “Aku serius,” Rachel mencubit lengannya pelan. “Kenapa? Ada apa sebenarnya?” Vivian akhirnya menyerah. Ia butuh seseorang untuk mendengar, meski tidak bisa menyebut nama atau cerita sebenarnya. “Rachel, aku mau cerita sesuatu padamu. Tapi ... aku nggak yakin apa aku harus bicarakan ini padamu,” ucap Vivian masih setengah ragu. Rachel mendesah sedikit kesal. “Vivi ... masa kamu nggak percaya sama aku? Apa pun aku dengar, aku janji akan tutup mulut dan jaga rahasia,” jawab Rachel memberikan keyakinan penuh. Vivian mengangguk cepat, “Sebenarnya Aku… nggak sengaja ngeliat perselingkuhan seseorang yang aku kenal,” ujarnya pelan. “Dan suaminya itu… sangat cinta sama istrinya. Bahkan lagi nyiapin kejutan buat ulang tahun pernikahan mereka. Tapi istrinya malah… gitu.” Rachel menaikkan alis. “Wah… rumit banget. Terus kamu mau ngapain?” “Makanya aku tanya kamu,” Vivian memandangi ujung sepatunya. “Menurut kamu… aku harus gimana?” Rachel mengerutkan bibir, berpikir. “Orang itu sangat dekat sama kamu?” Vivian menoleh cepat. “Kenapa nanyanya gitu?” “Soalnya kalau dekat… kamu bakal makin kebawa emosinya,” jawab Rachel santai. “Tapi menurutku… biarin aja. Itu urusan orang dewasa, Vivi. Kita nggak bisa ikut campur terlalu jauh.” Vivian menunduk. Ada rasa protes yang naik ke dadanya. “Bagaimana aku bisa diam kalau itu menyakiti orang yang aku sayang?” pikirnya. Rachel menepuk bahunya. “Serius deh. Jangan masuk ke masalah rumah tangga orang. Itu bisa berbahaya.” Vivian mengangguk pelan, meski pikirannya berteriak sebaliknya. Karena bagaimanapun juga, lelaki yang disakiti itu adalah orang yang paling ia sayangi di dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN