Mandul - 2

1575 Kata

Langit tampak sendu, seolah ikut menampung sisa luka semalam. Fadlan dan Zahra berangkat kerja bersama, tapi tak ada yang terasa seperti biasanya. Zahra duduk di jok belakang tanpa memeluk pinggang suaminya, hanya diam. Jarak di antara mereka terasa lebih lebar dari jok motor itu sendiri. Angin pagi menerpa, tapi dinginnya tak sanggup meredakan panas emosi yang masih tersisa. Fadlan mencoba membuka percakapan, namun kata-kata selalu mentok di tenggorokan; ia tahu Zahra belum siap bicara. Motor berhenti di depan PT. Mastex. Zahra turun tanpa suara, hanya menoleh sebentar lalu mengulurkan tangan. Fadlan menyambut. Zahra mencium punggung tangannya—gerakan sopan, datar, seperti upaya menjaga sisa-sisa kewajiban rumah tangga, bukan kehangatan. Lalu Zahra berjalan menjauh. Tegap. Dingin. Tida

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN