Sahabat Lama Yang Penuh Gairah

1684 Kata
Jemari lentik Andam baru saja hendak meraih tas tangan kulitnya ketika ponsel di atas meja kembali bergetar hebat. Kali ini bukan sekadar pesan teks, melainkan sebuah panggilan masuk. Sebuah nama yang tertera di layar membuat mata cokelat Andam membelalak tidak percaya. Sonya. Andam tertegun sejenak. Sonya adalah sahabat karibnya semasa kuliah dulu, sosok yang sangat dekat namun sudah bertahun-tahun tidak ia temui secara fisik. Setelah menikah, Sonya diboyong oleh suaminya yang bertugas di Bali. Di Pulau Dewata itu, kabarnya Sonya sukses membangun jaringan bisnis salon kecantikan dan butik ternama. Meski jarak memisahkan dan kesibukan mendera, keduanya memang masih sesekali bertukar kabar melalui media sosial atau pesan singkat. Andam segera menggeser tombol hijau di layarnya. "Sonya? Ya ampun, ini benar kamu?" pekik Andam, tidak mampu menyembunyikan rasa terkejut sekaligus bahagianya. Dari seberang telepon, terdengar suara tawa renyah yang sangat familier. "Andam! Kangen banget aku! Apa kabar, Ibu Manajer?" "Kabar baik, Son. Kamu sendiri bagaimana di Bali? Tumben banget telepon jam segini," ujar Andam, senyumnya merekah lebar, melupakan sejenak ketegangan yang sempat menguasai dirinya beberapa menit lalu. "Nah, itu dia. Aku punya kejutan buat kamu. Aku udah nggak di Bali lagi, Dam. Sejak sebulan yang lalu, suamiku pindah tugas dan kami resmi menetap di Jakarta lagi! Sengaja kemarin-kemarin aku nggak bilang, biar jadi kejutan pas kita ketemu. Sekarang butik baru aku di daerah Senopati udah beres berbenah. Kamu ada waktu nggak siang ini? Temani aku makan siang, yuk? Kangen banget mau cerita banyak!" Mendengar kabar itu, binar kegembiraan langsung memancar dari wajah cantik Andam. Rasa rindu pada sahabat lama seketika membuncah, mengalahkan debaran liar yang tadi sempat ditiupkan oleh pesan dari Bimo. Bagi Andam, kehadiran Sonya adalah oase yang ia butuhkan. Seorang teman wanita tempat ia bisa menjadi diri sendiri tanpa harus selalu menjaga imej kaku sebagai istri profesor di depan publik. Keinginan untuk bernostalgia dan memeluk sahabatnya jauh lebih menarik perhatiannya saat ini. Namun, Andam tiba-tiba teringat akan janjinya yang baru saja ia buat. "Son, aduh, aku senang banget mendengarnya! Kebetulan jam istirahatku baru mau mulai. Kamu kirim lokasi restoran di dekat butikmu sekarang, ya. Aku langsung jalan ke sana," jawab Andam antusias. Setelah panggilan telepon ditutup dengan tawa hangat dari kedua belah pihak, Andam buru-buru membuka kembali ruang obrolannya dengan Bimo. Sisi rasional dan kehati-hatiannya sebagai sosok wanita terhormat seolah mendapatkan momentum untuk kembali mengambil kendali. Dengan cepat namun tetap sopan, ia mengetik pesan pembatalan: "Bimo, maaf banget ya, sepertinya makan siang kita hari ini harus ditunda dulu. Tiba-tiba saja ada pertemuan mendadak. Next time kalau jadwalku longgar, kita atur lagi ya di tempat latihan. Maaf ya, Bimo." Tanpa menunggu balasan dari pelatih fitnes itu, Andam langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menghela napas lega, merasa seolah takdir baru saja menyelamatkannya dari langkah pertama menuju jurang dosa. Dengan senyum yang lebih lepas, wanita karier itu melangkah keluar dari ruang kerjanya, siap menyongsong pertemuan dengan masa lalunya. ** Langkah kaki Andam membawa dirinya memasuki sebuah restoran berkonsep glass house yang asri di kawasan Senopati. Di antara semilir penyejuk udara dan aroma panggangan roti yang menggoda, mata cokelat Andam menyapu ruangan, hingga akhirnya terpaku pada sebuah meja di sudut dekat jendela besar. Di sana, seorang wanita tengah duduk dengan keanggunan yang langsung mencuri perhatian seisi ruangan. Sonya. Sebagai seorang maestro di bidang tata rias dan mode yang sukses menaklukkan pasar Bali, penampilan Sonya siang itu benar-benar memukau, sebuah perpaduan sempurna antara kelas, tren, dan estetika tinggi. Wanita berusia 35 tahun itu tampak jauh lebih muda dari usianya. Kulitnya yang kuning langsat tampak sehat, bercahaya dengan efek glass skin hasil dari perawatan tingkat tinggi. Wajahnya yang berbentuk oval dipoles dengan riasan makeup no-makeup look yang sangat halus; sapuan eyeshadow bernuansa earth tone yang hangat, garis eyeliner tipis yang mempertegas tatapan matanya yang cerdas, serta lipstik berwarna nude peach dengan sentuhan glossy yang membuat bibirnya tampak penuh dan segar. Gaya busana Sonya adalah pernyataan mode yang berkelas. Ia mengenakan outer linen longgar berwarna putih gading dengan potongan asimetris, dipadukan dengan inner sutra berwarna terakota yang kontras namun harmonis. Rambut hitamnya yang panjang ditata dengan gaya wavy alami yang jatuh bahu, sementara anting-anting perak bakar khas perajin Bali berdesain modern menggantung di telinganya, bergoyang mengikuti setiap gerak kepalanya. Ia adalah definisi dari wanita yang tahu persis bagaimana cara menonjolkan keindahan dirinya tanpa harus terlihat berlebihan. "Andam!" Sonya langsung bangkit berdiri begitu melihat sahabatnya mendekat. "Sonya! Ya ampun, kamu cantik banget!" puji Andam tulus, mempercepat langkahnya. Kedua wanita itu berpelukan erat, melepaskan kerinduan yang telah bertahun-tahun terpendam dalam ruang digital. Kehangatan pelukan itu seketika meruntuhkan dinding formalitas yang biasa Andam bangun di kantor PT. Global Taruna Perkasa. Setelah memesan hidangan, grilled salmon dengan saus lemon mentega untuk Andam, dan quinoa salad dengan roasted chicken untuk Sonya, perbincangan mereka mengalir seperti air bah yang jebol dari bendungan. Di atas meja yang dipenuhi makanan estetik, mereka berbincang dengan lepas, menanggalkan semua beban status sosial mereka di Jakarta. "Aku masih nggak percaya kamu benar-benar pindah ke Jakarta, Son. Bali itu kan sudah seperti surga buat bisnismu," ujar Andam sambil memotong salmonnya. "Jakarta juga surga, Dam, tapi surganya uang dan tantangan baru," jawab Sonya sambil tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Butik dan salonku di Bali sudah ada sistem dan tim yang solid yang pegang. Sekarang saatnya aku melebarkan sayap di sini. Lagipula, suamiku dapat promosi jabatan di kantor pusatnya. Jadi, ya... here I am!" Mereka mengenang kembali masa-masa kuliah dulu, tentang bagaimana mereka sering berbagi mi instan di kamar kos, hingga cerita tentang dosen-dosen killer yang dulu menjadi momok. “Dan akhirnya kamu kecantol sama Pak Dosen…” ucap Sonya. Tawa lepas mereka sesekali berderai, membuat beberapa pengunjung restoran menoleh, terpikat oleh pesona dua wanita matang yang memancarkan energi positif tersebut. Andam tampak tak mau membahas dosennya yang saat ini telah menjadi suaminya, Profesor Anto. Maka, Sonya segera berganti topik. Mata cokelat Andam berbinar jenaka saat Sonya menceritakan tingkah lucu para sosialita Bali yang menjadi pelanggan setianya. Di sela-sela tawa yang mulai mereda, Sonya memundurkan sedikit tubuhnya, menopang dagu dengan sebelah tangan sembari menatap Andam dengan pandangan menilai yang tajam khas seorang pengamat kecantikan dan mode. "Tapi jujur ya, Dam... secara genetik kamu itu luar biasa. Kamu sama sekali nggak berubah, malah makin matang dan cantik alami. Kulit putihmu dan bentuk tubuhmu itu benar-benar aset yang bikin iri banyak wanita," puji Sonya tulus, namun sedetik kemudian matanya menyipit, beralih meneliti blazer abu-abu kaku dan riasan wajah Andam yang cenderung minimalis. Sonya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mendesah pelan. "Tapi sayang banget, Dam... cara kamu merias diri dan memilih busana kantor ini benar-benar 'kriminal' buat wanita sepotensial kamu. Kamu ini manajer top yang menjaring investor kakap, tapi potongan blazermu ini terlalu kaku, membuat lekuk tubuhmu yang indah jadi kelihatan terpendam. Riasan wajahmu juga terlalu aman, kurang memberikan penegasan pada matamu yang ekspresif itu. Sayang banget kalau pesonamu tertutup imej kaku seperti ini." Andam tertegun mendengar kritikan jujur sahabatnya, namun ia tidak tersinggung sama sekali. Ia tahu Sonya bicara sebagai seorang profesional yang sangat ahli di bidangnya. Sonya tersenyum misterius, matanya berbinar penuh rencana. "Tenang saja. Karena sekarang aku sudah di Jakarta, aku berjanji akan mengajari kamu cara dandan dan memilih busana yang tepat. Aku akan makeover kamu jadi wanita karier yang tidak cuma cerdas, tapi juga punya aura memikat, elegan, dan berkelas yang bikin semua orang enggan memalingkan muka. Gimana? Mau, kan?" Mendengar tawaran itu, seulas senyum lebar yang tulus langsung merekah di bibir penuh Andam. Matanya berbinar senang, membayangkan bagaimana sentuhan tangan dingin Sonya bisa mengubah penampilannya menjadi lebih segar dan berani. "Mau banget, Son! Aduh, aku memang merasa penampilanku belakangan ini terlalu monoton dan kaku. Tolong bantu aku ya, ajari aku semuanya sampai mahir," sahut Andam antusias, merasa sangat beruntung takdir mempertemukannya kembali dengan Sonya di saat ia memang sedang merindukan sebuah perubahan dalam hidupnya. Pertemuan yang penuh kehangatan itu pun ditutup dengan sebuah kesepakatan. Sonya mengajak Andam untuk langsung berkunjung ke cabang salon kecantikan barunya yang terletak tidak jauh dari restoran tersebut untuk memulai sesi transformasi penampilan yang dijanjikan. Andam menyambut ajakan itu dengan binar mata yang penuh antusiasme. "Ayo, Son. Aku sudah tidak sabar ingin melihat 'sihir' tanganmu," seloroh Andam sembari merapikan tas tangannya. Sonya kemudian melangkah menuju meja kasir untuk menyelesaikan tagihan makan siang mereka. Namun, saat ia mengeluarkan kartu kreditnya, sang kasir tersenyum ramah dan menggelengkan kepala. "Maaf, Ibu. Tagihannya sudah diselesaikan sama tamu di sebelah sana," ujar kasir wanita itu sambil mengarahkan pandangannya ke sudut ruangan dekat area terbuka. Sonya dan Andam terkejut, dan spontan menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sana, duduk seorang pria asing. Seorang bule dengan perawakan tinggi, berambut pirang gelap yang ditata rapi, serta memiliki rahang tegas yang ditumbuhi janggut tipis yang terawat. Pria bule itu mengenakan kemeja linen kasual yang digulung hingga siku, menonjolkan lengan yang kokoh. Saat menyadari kedua wanita itu menatapnya, ia mengangkat cangkir kopinya sedikit, mengulas senyum menawan yang sangat karismatik. "Wah, tampaknya kita dapat keberuntungan siang ini," bisik Sonya. "Yuk, kita ucapin terima kasih. Tidak sopan kalau langsung pergi begitu saja." Sonya memimpin langkah, diikuti oleh Andam di belakangnya. Begitu mereka tiba di depan meja pria tersebut, Sonya menyapa dengan kalimat yang sangat fasih dan gestur teramat anggun. "Excuse me, Sir. We just found out that you generously paid for our lunch. Thank you so much, that was very kind of you," ucap Sonya dengan senyuman terbaiknya. Pria bule itu langsung berdiri, menunjukkan postur tubuhnya yang tegap dan atletis. Tatapan matanya yang berwarna biru jernih langsung terkunci pada paras menawan Sonya. "It’s my absolute pleasure. I simply couldn't resist the view of two beautiful ladies enjoying their time. By the way, I’m Christian," ujarnya dengan suara bariton yang hangat sembari mengulurkan tangan. Sonya menyambut uluran tangan itu. "I’m Sonya, and this is my friend, Andam." Andam ikut bersalaman, merasakan kehangatan dan kekuatan dari jemari pria asing itu. Saraf-saraf kewanitaan Andam mendadak berdesir hebat hanya karena sentuhan singkat tersebut. Christian menatap Sonya dengan binar kagum yang tidak ditutup-tutupi. "You are incredibly stunning, Sonya. If you don't mind, I would love to stay in touch. May I have your w******p number? Perhaps we could grab a drink sometime." Mendengar pujian dan permintaan yang terus terang itu, Sonya terdiam sejenak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN