“Aku perlu bicara,” ucap Devan lagi, menatap Roland sambil mengunyah makanannya. Entah kenapa setiap kali Devan bersuara, tubuh Beby merasa seperti tersengat listrik. Aura Devan memang berbeda, bikin senam jantung. “Katakanlah!” jawab Roland santai. “Aku tidak punya banyak waktu, kupikir lebih baik bicara meski di meja makan di waktu yang tidak tepat. Akan ada pertemuan penting yang tidak bisa aku tunda.” “Okey, tidak masalah, Dady. Bicaralah!” Roland mempersilakan. Pandangan Devan kemudian tertuju ke wajah Beby. Mendapat tatapan tajam dari papa mertua, Beby menampilkan ekspresi tenang, meski sebenarnya hatinya cukup waspada. Itu pisau atau mata? Tajam sekali? “Beby, aku senang kau sudah bersedia menjadi bagian keluarga Gajendra. Kau sudah mau masuk ke rumah ini. Sebelumny

