"Ya udah," suara Clarissa akhirnya terdengar lagi, pasrah tapi pahit. "Tidur aja sana. Semoga mimpi kamu lebih indah daripada ngobrol sama aku." 'Klik'. Sambungan telepon terputus. Bian memandang layar ponselnya yang kini gelap. Tangannya gemetar, bukan karena marah, tapi karena perasaan kosong yang menggerogoti. Ia meletakkan ponsel itu di samping bantal, lalu merebahkan diri. Lampu kamar tetap menyala, tapi matanya tak kunjung terpejam. Kata-kata Bi Bitha kembali menghantui pikirannya tentang keseharian, tentang masa depan, tentang pilihan yang harus ia ambil sebelum terlambat. Malam di Melbourne terasa lebih dingin dari biasanya. * Besok paginya, Clarissa sudah duduk di sebuah kafe modern di daerah Senopati. Tempat itu sudah jadi langganan dia dan sahabat-sahabatnya, Audrey dan Te

