"Ckkk ..." Tanpa alasan Bian berdecak kesal. Rasanya sudah tidak ada gunanya lagi menahan diri. Keputusan untuk menukar jadwal empat hari lagi terasa konyol. Ia ingin sekarang juga berlari, terbang ke Bali, mengetuk pintu kamar rumah sakit itu, dan berkata ia datang. Tapi ia tahu, itu tidak sesederhana itu. Ada Clarissa. Ada keluarganya. Ada ribuan alasan logis yang membuat langkah itu mustahil. Mata Bian terus menatap layar ponsel, menatap senyum tipis Nadira di foto itu. Senyum yang tidak tahu ditujukan kepada siapa. Bian yang masih penasaran dengan cerita papapnya yang berada di Bali sekarang, akhirnya masuk dalam chat papapnya tadi, dan menekan Icon telepon, ia menelepon papapnya. Nada sambung terdengar dua kali sebelum suara yang sangat ia kenal menjawab. "Halo, a'?" "Papap mas

