Merasa Sendiri.

1186 Kata
Matahari mulai condong ke barat saat mobil hitam milik Arga keluar dari gerbang rumah keluarga Maheswara. Dari balik kaca, jalanan kompleks perumahan elite itu perlahan menjauh. Di jok belakang, Shaila dan Dharma sudah terlelap, kelelahan setelah seharian berlarian bersama sepupu-sepupu mereka. Shaila bersandar di bahu kakaknya, napasnya teratur, sementara Dharma masih menggenggam mobil-mobilan kecil yang ia dapat dari pamannya. Suasana dalam mobil hening. Hanya suara mesin dan sesekali gesekan ban dengan aspal yang terdengar. AC berembus lembut, membuat keheningan itu kian terasa tebal. Arga mengemudi dengan pandangan lurus ke depan, kedua tangannya mantap di setir. Namun di sudut matanya, ia sesekali melirik istrinya yang duduk di kursi penumpang. Nayara diam, menatap keluar jendela, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Sinar sore yang keemasan memantul di pipinya, menyoroti guratan lelah yang tak bisa ia sembunyikan. Arga membuka mulutnya, hendak bicara, tapi urung. Ia menelan ludah, lalu kembali menatap jalan. Sementara itu, Nayara mengeratkan genggaman pada tas di pangkuannya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak kencang, bukan karena marah, tapi karena rasa sesak yang menumpuk. Setelah beberapa kilometer, Arga akhirnya bicara. “Anak-anak kelihatan senang, ya. Mereka tadi main sepuasnya.” Nayara tidak langsung menjawab. Hanya anggukan kecil, singkat. Suaranya baru keluar setelah jeda panjang. “Iya. Anak-anak selalu bisa bahagia, meski orang dewasa … tidak.” Arga menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. Ia tahu maksud istrinya. Helaan napasnya terdengar berat. “Naya ….” Nayara tetap menatap keluar jendela. Pepohonan yang berlari mundur di kaca seperti lebih menarik daripada menatap wajah suaminya sendiri. “Aku sudah terbiasa, Mas. Sudah sering.” “Jangan bilang begitu.” Nada Arga tegas, tapi samar-samar terdengar seperti pembelaan diri. “Ibu memang begitu orangnya. Kamu tahu.” Nayara menoleh perlahan, tatapannya tajam tapi penuh luka. “Aku tahu. Pertanyaannya, apakah kamu juga tahu aku yang harus menanggung semua sikapnya? Aku yang jadi sasaran setiap ucapan nyinyir, setiap tatapan meremehkan. Kamu hanya … diam.” Keheningan kembali turun. Suara jam di dashboard berdetik pelan, menyuarakan detik-detik yang terasa panjang. Arga menggenggam setir lebih erat, urat-urat tangannya menegang. “Aku tidak mau memperkeruh suasana di depan keluarga. Kalau aku menegur Ibu atau Mbak Indira keras-keras, itu bisa jadi masalah besar.” Nayara tertawa kecil, getir. “Masalah besar untuk siapa? Untukmu? Untuk nama keluarga Maheswara? Lalu aku? Apa aku bukan keluargamu juga?” Pertanyaan itu menghantam tepat di d**a Arga. Ia tidak bisa segera menjawab. Mobil terus melaju. Jalanan sore yang lengang seakan memberi ruang bagi percakapan yang berat itu, tapi keduanya lebih banyak diam. Sesampainya di rumah, mobil berhenti di garasi. Arga dengan hati-hati membangunkan anak-anak. Dharma tergeragap sebentar sebelum melanjutkan tidur sambil dipapah masuk kamar. Shaila digendong Nayara, kepala kecilnya bersandar di bahu sang ibu. Setelah memastikan anak-anak tertidur pulas di kamar masing-masing, rumah terasa sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang mengisi ruang tamu. Nayara melangkah keluar menuju teras samping. Ia butuh udara, butuh ruang untuk menenangkan pikirannya. Di sana, bunga-bunga hasil kerja tukang kebun tertata rapi. Mawar, melati, dan beberapa tanaman hias lainnya bergoyang ringan diterpa angin sore. Ia berdiri mematung, tangannya meraba daun yang basah sisa siraman sore tadi. Suaranya bergetar ketika ia berbisik pada dirinya sendiri. “Sampai kapan aku harus begini?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja, seperti jeritan hati yang tak sanggup lagi ditahan. Langkah kaki terdengar mendekat. Arga muncul dari balik pintu, berdiri di sampingnya. Tubuhnya tegak, namun wajahnya menampakkan guratan lelah yang sama. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya pelan. Nayara menoleh sebentar, lalu tersenyum samar, sebuah senyum yang lebih menyerupai topeng daripada ketulusan. “Aku baik-baik saja.” Arga menghela napas panjang, tatapannya diarahkan ke halaman, seolah mencari jawaban di antara bunga-bunga yang bergoyang. “Maaf soal tadi. Ibu memang kadang … berlebihan.” “Kadang?” Nada Nayara meninggi sedikit, meski ia berusaha menahannya. “Mas, ini sudah kesekian kali.” Arga terdiam. Udara sore yang sejuk tidak cukup mendinginkan ketegangan yang ada. Ia mengangkat tangan, menepuk lembut bahu istrinya, sebuah gerakan sederhana yang dimaksudkan menenangkan. Namun, di telinga Nayara, itu hanya terasa seperti isyarat kosong. “Jangan ambil hati,” ucap Arga, suaranya datar. “Aku tahu kamu kuat.” Kata-kata itu membuat Nayara menoleh penuh. Matanya berkaca-kaca, bukan karena kelemahan, tapi karena kecewa yang terlalu lama dipendam. “Mas … aku tidak butuh kamu bilang aku kuat. Aku butuh kamu ada di sisiku. Berdiri untukku. Bukan hanya menonton dari jauh.” Arga menunduk, tak mampu menatap istrinya. Ia ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa situasi lebih rumit daripada yang terlihat. Tapi di hadapan tatapan Nayara yang penuh luka, semua alasan terasa hampa. Keheningan panjang kembali turun di antara mereka. Angin sore berembus, membawa aroma bunga melati. Dari kamar anak-anak, terdengar napas teratur, tanda tidur nyenyak. Dunia di sekitar mereka tenang, tapi di hati Nayara, sebuah retakan kecil kembali terbuka—dan kali ini, retakan itu bertambah lebar. Nayara melangkah menjauh, duduk di kursi kayu di sudut teras. Ia memeluk dirinya sendiri, seperti mencoba menahan pecahnya air mata. Arga tetap berdiri, kebingungan harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa diamnya selama ini mungkin bukan lagi bentuk pengendalian, melainkan sebuah pelarian. Diam yang semula ia yakini sebagai tanda kebesaran hati, kini terasa seperti cara mudah untuk menghindar dari kenyataan. Nayara menatap ke arah suaminya. Sorot matanya bergetar, namun suaranya tetap lirih, jelas, dan menusuk. “Mas, aku lelah. Aku bisa menerima kalau orang lain meremehkan aku. Tapi ketika kamu membiarkan itu terjadi, rasanya … aku sendirian.” Arga menutup mata sejenak. Kata-kata istrinya menembus semua pertahanan yang selama ini ia bangun rapat-rapat. Ia tahu Nayara tidak pernah meminta banyak—hanya keberpihakan. Tapi di antara tuntutan keluarga, bisnis yang harus dijaga, dan rasa hormat pada ibunya, Arga sering memilih diam. Diam yang kini mulai berbalik menyakiti orang yang paling ia cintai. Namun lidahnya kelu. Kata-kata yang seharusnya keluar, tersangkut di kerongkongan. Seolah ada jurang tak kasat mata yang menghalangi dirinya untuk sekadar berkata: Aku di pihakmu. Nayara mengalihkan pandangan, menatap ke halaman yang ditata rapi dengan bunga dan perdu hijau. Hatinya berdenyut perih. Keyakinan yang selama ini rapuh mulai runtuh sedikit demi sedikit. Ia mencintai Arga, ia mencintai keluarganya, ia berusaha sekuat tenaga bertahan. Tetapi untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut: apakah cintanya cukup kuat untuk bertahan menghadapi dinding dingin yang dibangun suami dan keluarganya sendiri? Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang segera ditelan kelam. Angin sore berembus, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kamboja dari sudut halaman. Di teras samping itu, dua manusia berdiri bersebelahan—tampak dekat dalam jarak, tetapi hati mereka terasa begitu jauh. Arga akhirnya membuka mata, menoleh sekilas ke arah istrinya, ingin bicara namun tak mampu. Di balik wajahnya yang tenang, pikirannya porak-poranda. Ia mencintai Nayara, tapi juga terikat pada keluarganya. Ia ingin melindunginya, namun tak tahu cara yang tepat. Nayara tetap berdiri, diam dalam luka. Di dadanya, retakan kecil itu terus melebar. Retakan yang semula tak terlihat, kini semakin nyata, semakin dalam, tanpa ada tanda akan berhenti. Dan malam pun turun, menyelimuti rumah besar itu dengan hening yang berat—hening yang lebih bising daripada pertengkaran, karena di dalamnya ada perasaan yang tidak terucap, menggantung, menyesakkan, dan mengikis perlahan-lahan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN