Keluarga Besar Maheswara.

1051 Kata
“Sayang,” ucapnya, suaranya datar namun tegas, “aku ada rapat penting pagi ini. Kamu yang antar anak-anak ke sekolah, kan?” Nayara, yang masih jongkok mengikat tali sepatu Shaila, hanya mengangguk tanpa menoleh. “Ya. Setelah itu aku mau mampir sebentar ke butik.” Arga menepuk bahu Dharma sambil menunduk ke anak laki-lakinya itu. “Belajar yang rajin, jangan bikin masalah di kelas.” “Siap, Ayah!” seru Dharma dengan senyum lebar. Lalu giliran Shaila yang disentuh lembut rambutnya. “Kamu juga, jangan nakal.” Shaila menatap ayahnya dengan serius. “Ayah jangan pulang malam lagi, ya. Aku tidak suka.” Kalimat itu, polos dari bibir seorang anak, membuat ruangan sejenak terhenti. Arga mengerjap pelan, lalu membalas dengan senyum kecut. “Ayah usahakan, Sayang.” Nayara, yang mendengar kalimat itu, merasakan sesuatu menghunjam di dadanya. Usahakan. Kata itu seakan sudah basi di telinganya. Janji Arga untuk pulang tepat waktu sudah terlalu sering melayang tanpa bukti. Alasan rapat bisnis, klien yang tak bisa ditinggalkan, atau pekerjaan mendesak selalu menjadi alasan utama. Ia ingin berkata banyak hal saat berdiri menatap suaminya—ingin menagih kehangatan yang dulu tak pernah terlambat diberikan, ingin mengingatkan betapa jarak di antara mereka kian melebar. Namun, seperti biasa, kata-kata itu membeku di tenggorokan. Arga meraih tas kerjanya. “Aku berangkat dulu.” Nayara menegakkan bahu, suaranya lembut tapi ada getir yang tersembunyi. “Jangan lupa makan siang. Jangan hanya kopi.” Arga menoleh sekilas, mengangkat sudut bibir dalam senyum tipis. “Ya.” Ia melangkah menuju pintu, diiringi langkah kecil anak-anak yang riang ingin mengantar ayah mereka sampai halaman. Tawa Dharma dan Shaila bergema, memecah pagi yang sempat tegang. Sebelum benar-benar pergi, Arga sempat kembali ke pintu, seakan ada yang ia lupakan. Suaranya terdengar lagi, singkat namun cukup untuk mengubah ekspresi Nayara. “Oh ya, besok Minggu ada arisan keluarga Maheswara. Jangan lupa, kita harus datang.” Nayara menoleh cepat. Matanya membeku sepersekian detik. “Arisan keluarga?” suaranya rendah, hampir tanpa nada. “Iya. Keluarga besar. Semua hadir. Jadi kamu siapkan diri, ya,” ujar Arga, tenang seperti sedang menyampaikan agenda rapat biasa. Nayara tidak langsung menjawab. Hanya anggukan tipis yang dipaksakan. Bibirnya kering, dan hatinya mendadak terasa berat. Begitu pintu kembali tertutup, Nayara berjalan ke jendela, menyibak tirai, menatap suaminya masuk ke mobil hitam yang sudah menunggu. Mesin menyala, pintu tertutup, dan kendaraan itu perlahan meluncur meninggalkan pekarangan. Nayara menatap kosong meja makan. Ia tahu persis bagaimana arisan keluarga Maheswara berjalan. Tatanan megah, percakapan formal, senyum pura-pura, dan tatapan sinis dari beberapa ipar yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya sebagai bagian dari keluarga. Setiap kali ia datang, selalu ada komentar kecil yang menusuk, seolah dirinya hanyalah orang luar yang kebetulan masuk. Ada cibiran tentang latar belakangnya, bisik-bisik tentang pernikahannya dengan Arga yang dianggap “tidak seimbang.” Dan Nayara, dengan segala kesabaran yang ia miliki, hanya bisa menelan semua itu. Ia tidak pernah berkata apa-apa pada Arga. Tidak pernah mengeluh terang-terangan, karena pada akhirnya, bagaimanapun juga, Arga tetap bagian dari keluarga itu. Hanya dirinya yang selalu dianggap berbeda. Tangannya mengepal di balik meja. Pagi yang tadinya penuh tawa anak-anak, kini menyisakan bayangan berat tentang Minggu yang akan datang. Dalam hati, Nayara berbisik pada dirinya sendiri: Andai aku bisa memilih, aku tak ingin datang. Tapi aku tahu, menolak bukan pilihan. Ia memandang ke arah anak-anak yang sibuk berebut pensil warna untuk dimasukkan ke dalam tas sekolah. Senyum polos mereka menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap kuat. Namun jauh di lubuk hatinya, Nayara tahu, hari-hari hangat seperti ini tidak akan selalu sama. Dan entah bagaimana, ia merasakan firasat bahwa Minggu nanti, sesuatu akan berubah lebih jauh dari yang ia bayangkan. Dari luar, keluarga mereka tampak sempurna: rumah besar, anak-anak ceria, suami yang sukses. Namun di dalam dirinya, Nayara tahu ada bisikan halus yang makin sulit diabaikan—ada sesuatu yang perlahan berubah, dan ia tak bisa memastikan apakah perubahan itu bisa mereka kendalikan. Ia berbalik, mulai membereskan piring dan cangkir di meja makan. Tangannya bergerak, tapi pikirannya melayang. Shaila mendekat sambil membawa tas sekolahnya. “Bunda, ayo cepat. Nanti telat.” Nayara tersenyum, menahan segala gundah agar tak terbaca oleh anak-anak. “Iya, Sayang. Sebentar lagi.” *** Hari Minggu siang, rumah besar keluarga Maheswara siang itu sudah ramai. Mobil-mobil mewah berjejer rapi di halaman depan, sopir-sopir menunggu di bawah pohon rindang sambil berbincang sesama mereka. Dari dalam rumah, terdengar suara riuh tawa dan percakapan para tamu yang mulai berkumpul. Aroma masakan khas Jawa berbaur dengan wangi parfum mahal para undangan. Nayara melangkah masuk bersama Arga, Dharma, dan Shaila. Rambutnya disanggul sederhana, gaun berwarna krem pastel membalut tubuhnya. Ia sudah berusaha tampil sopan dan pantas, meski di dalam hatinya ada kegugupan yang tak pernah benar-benar hilang setiap kali menghadiri acara keluarga besar ini. Nayara menuntun Shaila yang menggenggam boneka kelinci lusuh kesayangannya. Dharma berjalan di sampingnya dengan ekspresi tidak sabar, sudah menanyakan berulang kali kapan bisa main di taman belakang bersama sepupunya. Arga berjalan setengah langkah di depan mereka. Tubuh tegapnya memancarkan wibawa yang kontras dengan sikap Nayara yang lebih hati-hati. Ia terlihat rileks, seolah kunjungan ke rumah keluarga besarnya hanyalah rutinitas sederhana. Namun bagi Nayara, setiap kali datang ke sini adalah ujian kesabaran. Di ruang utama, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian kebaya modern berwarna marun. Wajahnya tegas, garis-garis halus di dahi menambah kesan berwibawa. Matanya tajam, penuh perhitungan. Ratna Maheswara, ibu kandung Arga. Wajahnya masih cantik meski usia sudah lanjut, dengan riasan yang terjaga rapi. Aura wibawa memancar, namun tatapannya kerap dingin jika diarahkan kepada Nayara. Hubungan mereka tak pernah benar-benar hangat sejak awal pernikahan. “Selamat siang, Bu,” ucap Nayara, membungkuk sedikit. Ratna mengangguk singkat, matanya sekilas menelusuri penampilan menantunya. Dari ujung rambut hingga sepatu, tatapan itu seperti timbangan yang menilai apakah Nayara layak duduk di rumah besar ini. “Kamu datang juga, Naya,” katanya dengan nada datar, tanpa senyum. “Iya, Bu. Kami sekeluarga.” Nayara berusaha menjaga nada suaranya tetap sopan. Ratna mengalihkan pandangannya pada dua cucu yang kini berlari menghampirinya. Senyumnya langsung merekah, kontras dengan sikap dingin terhadap Nayara. “Dharma, Shaila … kemari, Sayang. Ah, cucu nenek kesayangan. Sudah tambah besar saja.” Ia meraih keduanya ke pangkuannya, menciumi pipi mereka dengan penuh kasih sayang. Nayara berdiri terdiam, menatap pemandangan itu. Ada rasa getir di dadanya—anak-anaknya disayang, sementara dirinya hanya dianggap sekadar pelengkap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN