Sejak malam itu, Kristian seperti menghilang dari hidup Sisil meski status mereka masih sama. Chat jarang dibalas. Telepon lebih sering tak terangkat. Janji makan malam berubah jadi “meeting mendadak”. Bahkan ketika Sisil menunggu, tak ada lagi kabar kapan ia akan dijemput.
Aneh rasanya menyebut seseorang sebagai pacar, tapi kehadirannya seperti udah, tak terlihat dan tak terasa. Padahal enam bulan lalu tidak seperti ini.
Sejak Kristian diangkat menjadi manajer, semuanya berubah. Ia makin sibuk dan sulit dijangkau. Entah sejak kapan, Sisil lebih sering berinteraksi dengan Lucas dibanding dengan kekasihnya sendiri.
“Lo kenapa?” Dhea menyenggol bahunya saat melihat Sisil menatap layar ponsel yang sudah mati sejak lima menit lalu.
Sisil menghela napas pelan.
“Gue kayaknya mau putus aja.”
Dhea langsung duduk tegak. “Lo gila? Dia konglomerat. Tiga tahun pacaran lo mau buang gitu aja?”
“Ya mau gimana…” Sisil menunduk. “Dia kayak nggak cinta gue lagi.”
Ia tersenyum hambar.
“Yang sering jemput gue malah pamannya, bukan dia.”
“Om dokter itu?” Dhea menyipitkan mata. “Yang tiap lo lembur tiba-tiba lewat? Yang ngirimin makan siang pas lo nggak sempat makan siang?”
Sisil mengangguk kecil.
“Namanya Lucas.”
Dhea terdiam sebentar, lalu bergumam pelan, “Dia kayak selalu ada nggak sih? Dia kayak spiderman, yang tiba-tiba nongol dan...”
Sisil cepat memotong.
“Jangan aneh-aneh mikirnya.”
Dhea mengangkat tangan menyerah. “Oke, oke. Eh tapi… lo nggak lupa kan? Besok ulang tahun Kristian.”
Sisil membeku.
"Astaga, gue lupa," pekiknya kemudian.
Dhea hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya itu.
Malam itu, Sisil segera memesan kue stroberi kesukaan Kristian. Ia juga memilih kado dengan hati-hati, dibungkus pita biru. Meskipun hatinya retak, niatnya masih tulus. Mungkin ini kesempatan terakhir untuk memastikan apakah masih ada yang bisa diselamatkan atau tidak di hubungan ini.
Keesokan harinya, ia berdiri di depan ruang kerja Kristian dengan membawa kue dan kado. Ia sudah terlalu sering datang ke kantor itu hingga resepsionis hanya tersenyum membiarkannya lewat. Namun langkahnya terhenti.
Pintu ruang kerja itu tak tertutup rapat. Tawa perempuan terdengar jelas dari dalam.
“Sayang, jangan…”
Suara Kristian menyusul, rendah dan penuh tawa.
“Gue suka bibir, ini dan semuanya…”
Tangan Sisil menegang di kotak kue. Suara ciuman terdengar begitu nyata hingga membuat perutnya mual.
Dengan jari gemetar, ia mendorong pintu. Pemandangan di dalam tidak mengejutkan. Kristian terlalu dekat dengan Anne, sekretarisnya. Tangannya di pinggang wanita itu. Bibir mereka hampir menyatu. Anne bahkan duduk di pangkuan pacarnya.
Aneh. Sisil menunggu rasa hancur datang. Menunggu air mata meledak, tapi yang muncul justru ketenangan seolah hatinya sudah lama pergi sebelum tubuhnya menyusul.
“Sil?”
Kristian tersentak. Anne buru-buru turun dari pangkuan Kristian lalu merapikan bajunya.
“Sisil, ini nggak seperti yang lo pikir.”
Sisil menatapnya datar.
“Oh ya?”
“Lo salah paham.”
Ia ingin tertawa. Salah paham bagian mana?
“Kita putus, Kristian.”
Kalimat itu keluar begitu ringan.
Kristian membeku. “Putus? Lo nggak bisa gitu aja!”
“Bisa.” Sisil mengangkat bahu kecil. “Kan lo lagi sibuk syuting bercocok tanam di kantor.”
Wajah Kristian merah padam.
Sisil meletakkan kue dan kado di meja kerjanya.
“Selamat ulang tahun.”
Ia menoleh sebentar.
“Juga selamat jadi mantan.” Ia pergi.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun… dadanya terasa ringan. Dia putus, tapi merasa bebas.
Hujan turun deras ketika ia keluar dari gedung. Langit seperti sengaja mendramatisasi momen itu.
Ponselnya bergetar. Nomor tanpa nama. Namun ia hafal angka itu. Lucas.
“Halo, Om.”
“Lo di mana?”
Suaranya lebih tajam dari biasanya.
“Di depan kantor Kristian.”
Hening sesaat.
“Jangan ke mana-mana. Gue ke sana.”
Dua puluh menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di depannya.
Lucas turun tanpa payung, jasnya langsung basah. Ia berjalan cepat menghampiri Sisil yang berdiri seperti anak hilang di bawah hujan.
“Lo basah kuyup.”
Sisil tersenyum kecil. “Biar dramatis, Om. Kayak film India.”
Lucas tidak tersenyum. Tatapannya turun ke wajah Sisil. Mata yang sembab. Bibir yang bergetar meski ia berusaha terlihat santai.
“Masuk,” katanya pelan.
Di dalam mobil, hanya suara hujan dan napas mereka.
“Kami putus,” ucap Sisil pelan. “Tadi aku melihat dia dan sekretarisnya bercumbu.”
Tangan Lucas mengencang di setir.
“Dia selingkuh.”
Beberapa detik hening.
“Bodoh.”
Sisil menoleh.
Lucas menatap lurus ke depan. “Dia yang bodoh.”
Lampu merah menyala di depan mereka. Cahaya merah memantul di wajah Lucas yang kini terlihat jauh lebih gelap dari biasanya.
“Om…” Sisil bersandar lelah. “Kalau aku bilang lega, Om marah nggak?”
Lucas akhirnya menoleh.
“Kenapa harus marah?”
“Karena mungkin…” Ia menarik napas. “Aku udah nggak sepenuhnya cinta dia lagi.”
Hening.
Lampu berubah hijau, tapi mobil belum bergerak. Sisil menoleh sepenuhnya ke arah Lucas.
“Selama ini yang selalu ada itu Om.”
Tatapan Lucas menegang.
“Yang jemput, yang kasih makanan dan membuatku merasa diperhatikan.”
Napas pria itu berubah berat.
“Sisil.” Suaranya rendah, menahan. “Jangan.”
Sisil sudah menatapnya dengan keberanian yang bahkan ia tak tahu dari mana asalnya.
“Boleh aku miliki hati Om?”