Bab 6 Tamu

1014 Kata
Sisil merebahkan diri di kasur, menutup pintu kamar kontrakan dengan satu dorongan ringan, lalu menarik napas panjang dengan sudut bibir terangkat ke udara. Hatinya bahagia dan rasa itu tidak bisa disembunyikan. Dia tertawa sendiri sembari meletakkan tangan kiri di jantungnya. Dia seolah ingin membuktikan tentang debaran aneh yang sekarang dirasakannya adalah nyata. Sisil tersenyum dengan pipi merona ketika mengingat kejadian tadi. Wajah Lucas sangat dekat dengannya. Dia dan Lucas, pria dengan sorot mata tajam dan ekspresi dingin itu, sedikit lagi, mungkin akan berciuman. Meski tidak terjadi. Hanya, hampir. Sisil membasahi bibirnya tanpa sadar. Ini bukan pertama kalinya. Dia pernah berciuman dengan Kristian. Hubungan selama tiga tahun, tentu saja, bukan sekadar berpegangan tangan seperti anak TK. Namun, perasaan baru yang dirasakannya saat ini sungguh membuatnya merasa berbeda. Saat di dekat Kristian, dulu dia tidak seperti ini. Selama dua hari terakhir ini, hidupnya juga benar-benar seperti roller coaste. Mulai dari deg-degan setiap kali bertemu Lucas, Lucas yang dingin tapi tetap bikin penasaran, hubungannya yang kandas, sampai rasa puas yang aneh di hatinya sendiri karena berhasil membuat Lucas sedikit goyah. Meski hanya sebentar, dia bisa melihat bagaimana pria itu nyaris hilang kendali degan memerhatikan bibirnya. Sisil menutup mata, membiarkan senyum kecil mengembang di bibirnya. Meski pipinya terasa sakit karena senyum daritadi, Sisil tidak peduli. Dhea duduk di kursi di seberang, menyeruput kopi sambil menatap Sisil yang rebahan di kasur. Ekspresinya separuh kagum dan separuh geli. Meski begitu, matanya selalu awas mengawasi. Sejak tadi, dia hanya diam. Ia kira, Sisil akan menyapanya yang duduk di meja belajar, tapi wanita muda yang sedang kasmaran itu mengabaikannya seolah dia makhluk tak kasat mata. Ia bahkan sempat mengira kalau Sisil sengaja melenyapkannya seolah dunia hanya miliknya seorang. Dia tidak tersinggung, hanya bingung. Meski begitu, dia merasa jadi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai sahabat baiknya itu terlihat terbang ke awan, ke langit ke tujuh. “Gila, Sisil… lo kerasukan setelah ketemu Om Lucas? Baru ketemu sebentar, tapi lo udah kayak pemain drama Korea yang adegannya udah direka ulang lima kali. Gue hampir ngira lo kena sihir, lho.” Sisil menepuk dahi dramatis, kemudian tersenyum lebar. “Drama Korea kalah jauh sama Om Lucas, Dhe. Dia… serius banget tapi gemesnya nggak ketulungan. Rasanya campur aduk antara mau ngelunjak dan pengen narik napas panjang aja.” Dhea menggeleng sambil menahan tawa. “Betewe, lo serius pengen nerusin rencana menggoda paman mantan lo?” Sisil pura-pura menatap langit-langit, melebarkan matanya seolah sedang menimbang filosofi kehidupan. “Menggoda? Ini namanya PDKT, kan lo yang bilang.” Dhea mengangkat alis skeptis. “Sama aja, kan?” Ia menahan tawa, tapi matanya sudah berbinar lucu. “Gue cuma khawtair aja lo cuma jadiin ini pelampiasaan. Gue bukan curiga, cuma jangan sampe lo sakit hati, Sisil. Lo kan baru putus sama Kristian, belum move on sepenuhnya.” Sisil menghembuskan napas panjang, meletakkan tangannya di d**a. “Gue nggak mikirin Kristian sekarang, Dhe. Fokusnya Om Lucas. Kata siapa gue belum move on? Gue kayaknya udah move on dari lama, deh” Dhea tersedak pelan sambil meneguk kopinya. “Ya ampun… lo ini bener-bener kombinasi tengil tapi polos. Serius, Sisil… gue nggak ngerti gimana lo bisa gitu.” Sisil tertawa kecil, matanya berkilat nakal. “Iya, Dhe. Mungkin karena dia lama bikin gue feeling lonely. Saat gue tahu dia selingkuh, alih-alih sakit hati, gue ngerasa lega. Juga, gue jadi tahu kalau orang yang ngebuat hati gue berdebar, bukan dia lagi.” Dhea mencondongkan tubuh, menatap Sisil tajam. “Seneng, tapi jangan keterusan. Gue nggak mau lihat lo nangis gara-gara cowok nggak jelas.” Sisil menepuk tangan Dhea lembut. “Santai aja. Gue tahu batasnya. Lagian… Om Lucas beda, Dhe. Beda sama cowok-cowok lain yang lo tau kan. Gue nggak perlu khawatir sama dia. Lagipula… ada hal-hal kecil yang bikin gue penasaran, tapi bukan hal yang merugikan.” "Tentu aja nggak rugi, dia aja ngasih lo tas empat ratus juta kayak ngasih mie instan," jawab Dhea setengah menyindir. Mereka berdua tertawa, suara mereka memenuhi kamar mungil itu, penuh kehangatan dan kebebasan. Sisil bersandar di bantal, menutup mata sebentar, membiarkan bayangan Lucas menari di pikirannya—cara dia menatap, cara dia menahan senyum, bahkan cara dia hampir kehilangan kesabaran tapi tetap profesional. Itu semua, imut dan menggemaskan di mata Sisil. Tiba-tiba, dari luar terdengar suara deru mobil yang sangat familiar. Sisil membuka mata, menoleh ke jendela, dan hatinya langsung berdetak lebih cepat. Tentu ini berbeda karena detak jantungnya diikuti dengan tekanan darah yang ikut naik. Di depan kontrakan, tepat di trotoar, berdiri Kristian. Mobilnya masih menempel di pinggir jalan, tapi yang membuat Sisil menegang bukan kendaraan itu—melainkan ekspresi Kristian. Mata yang memelas, bibir sedikit menekuk, tangan terkepal di pinggang, postur tubuhnya kaku tapi penuh tekad. Ada kombinasi percaya diri dan rasa cemas yang aneh di sana. Sisil mengerjap beberapa kali, menatap Dhea, yang sudah menahan tawa tapi matanya berbinar menandakan “oh no, drama incoming”. Sisil menghela napas pelan, menahan campuran emosi—heran, jengkel, tapi juga penasaran. Kristian yang biasanya PD dan sedikit arogan, kini terlihat… seperti anak kecil yang baru dimarahin guru tapi masih berharap dapat permen. Sisil menekuk bibirnya sedikit, mengerling ke Dhea. “Dhe… kayaknya… drama bakal mulai lagi nih,” bisiknya pelan tapi dengan nada nakal. Dhea menahan tawa keras kali ini, meletakkan cangkir kopinya, dan menyandarkan diri ke kursi. “GUe duduk sini aja ya… nonton sitkom versi Sisil dan Kristian. Gue mau tahu, dari mulut playboy itu bakal keluar muntahan buaya atau nasi basi.” "Mari kita cari tahu!" Sisil menepuk tangan di pangkuannya, bersiap menghadapi “serangan” Kristian. Ia harus siap menghadapi manuver Kristian yang sudah pasti dramatis. Gimanapun, di masa depan, mungkin mantannya itu akan memanggilnya bibi. Membayangkan hal itu membuat Sisil tersenyum lebar. Sedangkan di sana, di halaman depan kontrakan, mata mereka bertiga bertemu—Sisil yang santai tapi siap bermain, Dhea yang jadi penonton setia, dan Kristian yang membawa aura campuran antara percaya diri dan drama memelas. Setiap detik yang berlalu menjanjikan pertarungan kata-kata, tingkah laku, dan mungkin sedikit hati yang akan dipertaruhkan. Namun, untuk tamu yang tak diundang, Sisil udah siap berperang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN