Pagi itu, langit di atas pinggiran kota Jakarta membentang bersih tanpa sekat. Sisa-sisa bias biru muda mencuat indah, bebas dari kepulan asap polusi hitam yang biasanya mengepung jantung ibu kota. Angin bertiup dalam ritme yang tenang, sesekali menggoyang dahan pohon mangga yang tumbuh subur di sudut halaman sebuah hunian baru. Di atas pagar kayu yang dicat putih bersih, beberapa ekor burung gereja hinggap dan saling sahut, menciptakan latar suara alami yang begitu menyejukkan telinga. Suasana ini terasa begitu asing, namun teramat didambakan. Sangat bertolak belakang dengan hiruk-pikuk dan ketegangan ruang sidang yang selama berbulan-bulan merantai emosi penghuninya dalam rasa cemas yang menguras energi. Di dalam ruang kerja barunya, Arlo Danendra berdiri tegak menghadap jendela kaca b

