Malam telah larut menembus batas dini hari, namun gemuruh badai di luar dinding kaca vila perbukitan itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kilatan petir yang menyambar acak di balik tirai tipis sesekali menerangi sudut-sudut kamar pengurungan Elara, memantulkan bayangan gaun pengantin brokat putih yang tergantung kaku di dekat lemari pakaian. Elara duduk bersila di tepi ranjang king-size, menyembunyikan pucuk surat misterius beraroma cengkih itu di balik lipatan terdalam sweter kasmirnya. Pikirannya menjelma menjadi medan perang yang teramat kacau. Kalimat instruksi taktis tentang ventilasi koridor barat dan jalur pelarian di balik hutan pinus terus berputar di kepalanya, menawarkan sebuah pintu kemerdekaan yang selama ini ia impikan. Namun, di sisi lain, ia tahu betul risik

