Kanaya berbaring di ranjangnya, ia menatap jarinya yang sudah tersemat cincin berlian dari Aldric. Ia tak menyangka Aldric seserius itu dengan hubungan mereka, padahal hubungan mereka belum genap dua bulan dan ia juga belum menjawab lamaran Aldric itu. Ia tak ingin mimpi ketinggian saat Aldric melamarnya tadi siang, ia takut itu hanya mimpi dan jika terbangun ia takut kecewa. Hatinya bahagia melihat betapa yakinnya Aldric saat melamarnya, tapi hatinya yang masih ragu karena Aldric belum sepenuhnya mengenal dirinya begitu pula ia belum mengenal Aldric sepenuhnya. “Kay…” bu Inda mengetuk pintu kamar Kanaya, Kanaya segera menurunkan tangannya saat pintu kamarnya terbuka dan bu Inda melangkah masuk. Kanaya segera duduk di tepi ranjang, sedang bu Inda duduk di sampingnya. “kenapa sejak ta

