Fifty Seven

1150 Kata

Kanaya merebahkan tubuhnya di atasa ranjangnya, masih terbayang betapa akrab dan mesranya Aldric dan gadis itu. Gadis itu memang cantik dan anggun beda dengan dirinya yang gadis biasa, pasti mereka sepadan. Muncul kembali rasa ragu dihati Kanaya pada Aldric, ia menatap cincin di jari manisnya. Perasaannya campur aduk, ia tahu sulit bagi Aldric menghilangkan sifat yang sudah lama ia miliki, takkan bisa berubah dalam waktu singkat. Kanaya kemudian memejamkan matanya, besok ia harus bekerja, dan ia bingung apakah ia harus memberikan kado yang ia berikan atau tidak pada Aldric. Jika nekat bertemu dengan Aldric dan bertanya siapa gadis itu ia takut anggapannya benar tentang mereka, walau sudah memejamkan mata Kanaya tidak bisa segera tidur. Ia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi nanti.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN