7~SN

1387 Kata
“Masuk,” titah Djiwa sambil mengangguk ketika melihat Nila mengetuk pintu ruang kerjanya yang terbuka. “Ini undangan Nena, Pak,” ucap Nila semberi meletakkan undangan berdesain minimalis berwarna krem di atas meja Gavin. Kertas tebal dengan cetakan huruf emas itu terlihat sederhana, tetapi tetap memancarkan kesan elegan. “Terima kasih.” Djiwa melirik sekilas ke arah undangan tersebut, lalu kembali fokus pada layar monitornya. “Sebelum pulang, tolong panggil Elin dan Sigit ke ruangan saya.” “Baik, Pak,” ucap Nila tetapi masih berdiri di tempatnya. Hal tersebut membuat Djiwa menoleh dan menatap tanya. “Ada yang lain?” “Em ...” Nila mengangkat kedua bahunya sembari mengernyit. “Maaf, tapi ... karena Bapak atasan saya, jadi—” “To the point, La.” Nila menghela singkat. “Saya nggak nyaman dengan pak Gavin siang tadi,” ucapnya cepat tanpa jeda. “Dari cara dia melihat saya, terus pertanyaannya, sikapnya yang terlalu ‘memperhatikan’ saya. Bapak ngerasa nggak, sih, Pak?” Ocehan Nila tersebut akhirnya membuat Djiwa beralih dari layar komputernya. Bersandar pada punggung kursi, lalu bersedekap. “Mungkin, dia tertarik sama kamu.” “Pak, please.” Nila menarik kursi di sampingnya lalu duduk di sana tanpa permisi. “Bercanda Bapak nggak lucu.” “Dia duda, La,” sahut Djiwa dengan nada serius. “Istrinya sudah meninggal lama. Jadi, apa salahnya kalau dia tertarik sama kamu?” “Bapak!” Nila merengut kesal. “Pak Gavin itu seumuran dengan mama saya.” “Terus di mana masalahnya?” “Nggak make sense!” Nila berucap dengan geligi yang mengatup erat. “Orang yang jatuh cinta, memang sering kehilangan akal.” Nila bergidik lalu menggeleng keras, karena sempat membayangkan jika Gavin benar-benar menyukainya. “Ck! Tapi ... makasih karena sudah nolongin saya tadi.” “Kapan saya nolongin kamu?” Djiwa kembali menegakkan tubuh dan menatap layar komputernya. “Tadi, waktu nyuruh saya ngambil tablet.” Nila mencebik saat pria itu tidak melihatnya lagi. “Bapak ngerti kalau saya nggak nyaman dengan pak Gavin, jadi—” “Panggil Elin dan Sigit ke sini,” sela Djiwa tanpa menoleh dan merasa tidak perlu memberi penjelasan apa pun pada Nila. “Dan silakan pulang atau kamu saya kasih kerjaan sampai malam.” “Saya pulang.” Nila berjalan mundur sambil tersenyum, meskipun Djiwa tidak melihatnya. “Dan sekali lagi, terima kasih.” ~~~~~~~~~~~~ “Wah...” Kirana terpukau, matanya menyapu dekorasi mewah yang menghiasi setiap sudut gedung pernikahan saat ia masuk bersama Nila. “Harusnya kamu datang sama Arif. Buat referensi kalau kalian—” “Aku sudah putus sama dia.” Nila menyela karena tidak ingin membicarakan semua itu. “Vanila?” Kirana membawa putrinya ke sisi ruangan yang tidak terlalu padat. “kapan? Kenapa baru cerita ke Mama?” Tiba-tiba saja, ingatannya kembali pada pembicaraan mereka di malam itu. Malam di mana Nila bertanya tentang siapa papanya. “Apa ini ada hubungannya dengan ... papamu?” Nila menggeleng sembari memejam. Helaan napasnya terbuang berat, tetapi ia enggan menceritakan apa pun pada Kirana. “Pacaran, terus putus itu sudah biasa. Nggak ada hubungannya dengan obrolan kita malam itu.” “Mama tahu kamu bohong.” “Ma, please.” Nila menggandeng Kirana lalu kembali berjalan menuju pelaminan. “Aku nggak mau bahas itu. Mending kita salaman sama Nena, makan, terus pulang.” “Oke.” Kirana juga tidak mau menuntut banyak. Sama seperti Nila yang tidak pernah memaksakan kehendaknya, Kirana memilih untuk mengikuti arus tanpa banyak protes. “Tapi kamu tahu, kan, kalau Mama selalu ada buat kamu.” “Aku tahu.” Nila tersenyum lembut saat menatap Kirana, sambil mengeratkan gandengannya. “Dan makasih banyak karena selalu ada buat aku.” “Ck, maskara Mama yang murah ini bisa luntur.” gumam Kirana sambil buru-buru mengeluarkan tisu dari tasnya. Ada haru yang mendadak muncul, sehingga tangannya sedikit gemetar saat menepuk-nepuk area matanya. Namun, ia tetap berusaha mengedip cepat, agar tidak ada air mata yang lolos dari sana. Ucapan Nila memang sederhana, tetapi hal itu sanggup menyentuh hati Kirana lebih dalam daripada yang ia duga. Seolah ada sesuatu yang hangat menjalar di d**a, mengingatkan Kirana bahwa meskipun hidup mereka penuh liku, cinta mereka akan selalu menjadi tempat untuk pulang. “Sudah kubilang, beli maskara yang waterproof.” Berbeda dengan Kirana, Nila justru tertawa dengan perkataan sang mama. “Ngapain beli mahal-mahal, kalau setahun sekali belum tentu dipake.” “Terserah, Mamalah.” Nila enggan berdebat. Lebih baik segera mengajak Kirana bersalaman dengan mempelai di pelaminan, lalu segera turun dan menyantap makanan yang disajikan. Setelah itu, Nila hanya ingin pulang dan menikmati malam minggu yang tenang di rumah. “Pak Djiwa?” Nila menegur pria yang terdiam di hadapan buffet. Seolah sedang berpikir, menu makanan apa yang akan diambilnya malam hari ini. Djiwa menoleh dan tertegun untuk beberapa saat ketika melihat penampilan Nila yang berbeda. Gadis itu memakai dress midi dengan potongan A-line yang anggun. Bagian atasnya dihiasi lengan ruffle transparan, sementara motif batik modern di bagian bawah memberikan kesan klasik yang menawan. Ditambah, Pita hitam yang melingkar di pinggangnya membuat penampilan gadis itu semakin sempurna. “Sendirian, Pak?” tanya Nila memangkas jarak dan melihat ke sekelilingnya. “Atau, bawa gandengan.” “Saya bukan truk gandeng,” balasnya cuek. Bibir Nila mengerucut. Menahan kesal di dalam d**a, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. “Kalau gi—” “Belum ambil minum juga, La?” Kirana mendekat sembari menatap pria yang berada di hadapan Nila. Sebenarnya, Kirana sedang menunggu Nila di meja dan enggan pergi ke mana-mana. Namun, saat melihat putrinya bicara dengan seorang pria, rasa penasarannya mendadak menyeruak. “Oh ...” Nila buru-buru menggeleng dan meraih lengan Kirana. “Nggak jadi, kita pulang aja.” “Dan ...” Kirana mengarahkan telapak tangan pada Djiwa. Penasaran dengan sosok pria tampan dan matang yang sedang bicara dengan putrinya. “Ahh!” Dengan terpaksa, Nila memperkenalkan Kirana pada Djiwa. “Mama, ini Pak Djiwa, bosku di kantor.” “Bos?” Kirana mendadak rikuh. Andai tahu pria itu adalah atasan Nila, ia pasti akan tetap duduk di tempatnya. “Maaf. Saya ...” Dengan terpaksa Kirana mengulurkan tangan lebih dulu pada Djiwa. “Saya mamanya Nila.” “Saya Djiwa,” balasnya segera menyambut uluran tangan wanita itu dengan sopan. “Semoga Nila nggak merepotkan kalau di kantor,” ucap Kirana berbasa-basi. “Nggak sama sekali, Bu ...” “Kirana,” sambar Nila mulai merasa tidak nyaman. Karena itu, ia ingin segera berpamitan dari hadapan Djiwa. “Saya pergi dulu, Pak, permi—” “Djiwa!” Nila menoleh ke arah asal suara bersamaan dengan Djiwa. Menatap pria paruh baya yang menghampiri Djiwa dan langsung menepuk keras punggungnya. “Papa nggak tahu kalau kamu ada di sini juga.” “Papa?” celetuk Nila tiba-tiba. Djiwa menarik napas panjang. “Papa ini Nila, sekredku di kantor dan ini mamanya. Ibu Kirana.” “Saya Irsyad,” ucapnya memperkenalkan diri. Menyalami ibu dan putrinya yang juga memperkenalkan diri secara bergantian. “ “Papa sendirian atau—” “Sama bosmu,” potong Irsyad memberi anggukan sopan pada Kirana. “Pak Gavin?” tanya Djiwa memastikan. “Ya.” Irsyad menunjuk pria paruh baya yang berjalan ke arahnya. “Itu dia. Kami masih ada undangan ja—” “Maaf, saya permisi,” putus Kirana terburu. “Saya harus ke toilet,” ucapnya memberi anggukan sopan dan segera berbalik pergi tanpa bicara dengan Putrinya. Nila jadi serba salah. Ia hendak pergi menyusul mamanya, tetapi merasa tidak enak jika harus pergi tanpa menunggu Gavin. “Vanila? Sendirian?” tanya Gavin setelah berhenti di samping Irsyad. Nila tersenyum canggung. Kembali, ia melihat Djiwa dengan tatapan penuh harap. Memohon agar kembali diselamatkan seperti hari itu. “Dia sama ibunya,” jawab Djiwa mengambil alih. “Ini baru mau pulang. Hati-hati di jalan.” “Bapak juga.” Nila mengangguk sopan dengan perasaan lega. “Saya permisi.” “Bu Kirana cuma ke toilet,” ralat Irsyad mengerutkan dahi ketika menatap putranya. “Bukan mau pulang.” “Sebentar.” Gavin menyela sembari menatap Djiwa dan Irsyad bergantian. “Siapa bu Kirana?” “Ibunya Nila,” jawab Irsyad. “Dia—” Gavin memejam dengan helaan panjang. Pergi tanpa permisi, mencari sosok Nila yang mendadak hilang dari pandangan sembari menggumam, “Kirana ... Wicaksana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN