Acara pentas seni dan pertunjukan baru saja selesai. Ian memastikan tenda dan semuanya telah dibereskan ketika ia kembali ke ruangannya. Ia sangat lelah, tetapi ia senang karena berhasil meyakinkan Wina. Namun, kini ia harus menahan rasa kesal lagi lantaran Layla baru saja masuk ke ruangannya. "Mas, kamu anterin aku pulang, dong." Layla langsung memutari meja Ian. "Bukannya kamu bawa sopir?" Ian menarik mundur kursinya. "Ehm, tadi udah pulang. Soalnya aku mau pulang dianterin kamu aja, Mas. Ayo dong, papa sama mama aku bakalan seneng kalau kamu ke rumah," bujuk Layla. Ia mendaratkan tangannya di bahu Ian dan meremas lembut di sana. Ian menepis tangan Layla dengan cepat. Ia menatap tajam gadis itu. "Kamu nggak usah capek-capek berusaha, La. Aku udah bilang sama kamu kalau hubungan kita