Mata Maura melotot hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan tubuhnya membeku seketika. Dunianya seolah berhenti berputar saat melihat layar laptopnya—harta paling berharganya—mulai berkedip-kedip liar. Garis-garis statis warna-warni muncul sesaat, sebelum akhirnya... pet! Layar itu menghitam total. "Ra! Laptop kamu!" Sisilia panik luar biasa. Maura tersadar dari syoknya. Dengan tangan gemetar, ia menyambar tisu dari tasnya dan berusaha mengelap permukaan laptop. Ia bahkan melepas jaketnya untuk menyerap sisa cairan yang merendam mesin itu. Ia menekan tombol power berkali-kali dengan ibu jari yang gemetar. Berharap ada mukjizat, berharap logo perusahaan laptop itu muncul. Namun, mesin itu tetap mati. Dingin. Dan diam. Sekeliling mereka mendadak sunyi. Para mahasiswa yang tadinya meno

