Satu bulan kemudian... "Mau sampai kapan kamu akan menghindari Opa, Abi?" Kalimat itu membuat langkah Abi terpaksa berhenti. Ia sudah melihat sang kakek tadi, itulah kenapa Abi langsung memutar badannya dan berniat mencari jalan berbeda. Tapi sang kakek tampak tak ingin melepaskannya. "Opa mau ngomong apa? Abi buru-buru.." Abi melirik jam tangannya. "Kamu tinggal di mana sekarang?" Abi menatap kakeknya itu. Sebenarnya laki-laki tua ini tidak bersalah. Tapi tetap saja, Abi merasa tak bisa bertemu dengan orang-orang dari lingkungan keluarganya. Yang bersalah mungkin Papinya, tapi kakeknya juga memberikan Papinya izin untuk menikah lagi. "Opa cuma mau nanya itu? Abi rasa Opa tau di mana Abi tinggal. Abi tau Opa nyuruh bawahan Opa buat ngawasin Abi.." Agala menghela napasnya. Ia s

