saksi dan harapan

860 Kata
Setelah berhasil mendapatkan bukti visual dari PT. Wijaya Beton melalui Zen, Virian kembali ke kamar kos. Amarahnya pada Ayahnya kini bercampur dengan urgensi untuk menemukan bukti transfer yang tidak terbantahkan, karena ia tahu bukti foto saja tidak cukup untuk menjatuhkan sindikat sebesar ini. Virian menghabiskan pagi itu menganalisis foto dan data yang dikirim Zen. Ia tahu ia harus mencari penghubung antara PGG dan Wijaya Beton. (ucap Virian, mengirim pesan teks): “Zen, aku butuh bukti yang kuat. Cek semua perusahaan yang mengunjungi Wijaya Beton baru-baru ini. Fokus pada pemilik perempuan, aku baru saja mendengar percakapan orang bahwa ada perusahaan PT Bumi Lestari dan pemiliknya seorang wanita. Coba kamu cari tahu tentang siapa dia.” (ucap Zen, membalas pesan, nadanya mulai pasrah): “Gila, Bapak! Saya bahkan harus jadi human resource sekarang? Baiklah. Saya kirimkan data. Saya akan mencoba masuk ke sistem pembukuan lama PGG, mencari transfer yang menyimpang.” Virian kembali ke warung kopi di seberang situs konstruksi. Ia memilih tempat ini untuk memantau apakah ada pergerakan mencurigakan. Saat Virian memantau, Zen mengirim data. “Ditemukan. Ada kunjungan dari PT. Bumi Lestari. Pemiliknya seorang wanita bernama Alexa Wijaya. Latar belakangnya pengusaha muda, sexy, seorang wanita karir yang cerdas. sering terlibat tender mencurigakan, tapi selalu lolos dari hukum.” (ucap Virian, matanya menajam, ia langsung menghubungkan titik-titik): “Alexa Wijaya. Aku yakin dia adalah sindikat yang memfasilitasi penyelewengan limbah. Kamu harus mencari bukti transfer PGG ke perusahaan ini, Zen. Ini adalah tantangan terbesar kita.” Zen segera mengatur pertemuan rahasia di sebuah food court sepi. Virian tiba di food court, bertemu Zen yang wajahnya semakin kusut karena tekanan ganda. (ucap Zen, tiba dengan wajah kusut, menjatuhkan kopi panasnya sedikit karena panik): “Pak, kamu membuat saya gila! Saya harus melayani Direksi, memohon pada Bianca, dan sekarang saya harus membobol sistem transfer bank PGG! Ini tantangan besar, Pak! Saya sudah coba bypass empat kali, hampir ketahuan IT security PGG! Bapak mau saya dipecat sebelum kasus ini selesai?” (ucap Virian, geregetan, menahan diri untuk tidak membentak Zen): “Fokus, Zen. Aku butuh bukti transfer PGG ke Alexa Wijaya yang tidak bisa dibantah. Jangan ceroboh.” (ucap Zen, menghela napas, menyerahkan flash drive): “Ini data PT. Bumi Lestari. Kami punya masalah lebih besar. Bianca menelepon saya tadi malam. Dia memberikan ini untuk mu pak sebuah ultimatum.” Zen memainkan rekaman telepon di ponsel Virian. (Suara Bianca, tajam dan penuh ancaman): “Virian Pratama! Ayah ku (Keluarga Pratama) tidak akan menunggu lagi! Jika kamu tidak kembali ke Jayadwipa dalam tiga hari, aku akan menggunakan pengaruh Ayah ku dan Dewan Direksi untuk melengserkanmu! Atau aku akan membocorkan ke media bahwa kamu lari dari pernikahan dan merusak citra PGG!” (ucap Virian, marah karena diancam, tetapi tenang): “Matikan rekamannya. Aku akan menanganinya. Kamu terus cari bukti transfer PGG ke Alexa Wijaya. Setelah itu, jangan hubungi aku dulu. Aku butuh istirahat.” Virian melepaskan janggut palsunya—ia butuh kejujuran. Ia memutuskan untuk pergi keluar hanya menggunakan wig tanpa janggut palsunya ke toko bunga Karina. Sesampainya di depan toko vir melihat di dalam toko. Karina sedang merangkai bunga sendirian. Vir lalu masuk pintu toko pun berbunyi ada lonceng di atas pintu toko bunga itu. Kring....... Karina sedang merangkai bunga langsung diam... (ucap Virian, nadanya lebih lembut dari sebelumnya): “Karina.” (ucap Karina, menghentikan kegiatan, senyumnya menyambut): “Selamat datang kembali, Tuan. Aroma cappuccino Tuan tidak bisa saya lupakan. Saya tahu Tuan datang.” (ucap Virian, merasa lega karena dikenali): “Aku hanya ingin melihat mawar putih. Aku sedang merasa sangat lelah.” (ucap Karina, menuntun tangan Virian ke deretan mawar putih): “Mawar putih adalah bunga kejujuran, Tuan. Kelelahan Anda berasal dari hal-hal yang Anda sembunyikan. Berbagi dengan saya tidak akan mengurangi kekuatan Anda.” (ucap Virian, sifat dinginnya mulai runtuh, ia duduk di dekat Karina): “Aku harus menjatuhkan Ayah ku sendiri, Karina. Dan sekarang, aku harus berhadapan dengan wanita jahat yang berpura-pura baik. Ini terlalu kotor.” (ucap Karina, lembut, meletakkan tangan Virian di kelopak mawar): “Setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, pasti layak diperjuangkan, Tuan. Walaupun itu melawan darah daging sendiri. Saya akan mendoakan Anda dari sini.” Karina memegang setangkai mawar putih dan memberikannya kepada Virian. Tiba-tiba, ponsel Virian berdering lagi—kali ini adalah panggilan masuk langsung dari Bianca. Virian segera menjauh. (ucap Virian, nadanya kembali dingin): “Ya, Bianca.” (ucap Bianca, suaranya dipenuhi amarah dan kepastian): “Aku sudah bicara dengan Ayah ku. Kamu akan menghadapi Dewan Direksi segera. Dan aku akan memastikan media tahu siapa kamu sebenarnya, Virian.” Virian menatap mawar putih di tangannya. Senyum tipis terukir di wajahnya. (ucap Virian, suaranya penuh percaya diri yang tenang): “Lakukan, Bianca. Aku tidak akan pernah tamat.” Virian kembali ke Karina. (ucap Virian, suaranya kembali lembut): “Aku harus pergi, Karina. Terima kasih untuk mawar ini. Aku akan kembali.” (ucap Karina): “Berjuanglah, Tuan. Saya akan menunggu kabar baik itu.” Virian meninggalkan toko bunga, memegang erat mawar putih itu. Kejujuran Karina memberinya kekuatan baru dan arah di tengah kekacauan. Ia harus menghadapi ancaman pelengseran dan serangan Alexa Wijaya dan Bianca. Langkah selanjutnya adalah kembali ke Jayadwipa untuk menghadapi Bianca dan Ayahnya secara langsung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN