Udara sore di Taman Anggrek terasa lebih berat daripada biasanya. Angin membawa aroma bunga campur debu jalanan, tapi bagi Karina, dunia kini terasa lebih gelap dari biasanya—bukan karena matanya yang tak pernah melihat, melainkan karena kebohongan yang baru saja terkuak di depan telinganya. Virian masih memegang pundak Karina, tapi cengkeramannya kini longgar, seolah takut menyentuhnya terlalu kuat akan memperparah luka yang tak terlihat. Wartawan masih berkerumun, kamera mereka seperti mata predator yang lapar. Zen berusaha menjadi tembok hidup, tapi suaranya yang biasanya konyol kini terdengar rapuh. “Karina,” suara Virian pecah pelan, hampir tak terdengar di tengah hiruk-pikuk. “Aku bisa jelaskan. Tolong… dengarkan dulu.” Karina tidak menjawab segera. Ia menarik napas panjang, tanga

