"Siap buat ronde kedua?" Rania tak sempat menyahut, karena selanjutnya bibir Rehan membungkam mulutnya. Ciuman lembut Rehan dibalas oleh Rania, dengan gerakan agak kaku Rania mencoba mengimbangi kelincahan lidah Rehan yang menari-nari di dalam mulutnya. Sementara tangan suaminya itu terus bergerilya, melucuti semua pakaian yang ada di tubuhnya hingga tak satu pun benang tersisa. Rania tampil polos seperti bayi baru lahir. Menggemaskan. "Rehan." Rania berkali-kali menggumamkan nama Rehan, setiap kali tubuhnya bereaksi atas sentuhan suaminya itu. Rehan memang ahlinya dalam menerbangkan wanita sampai ke angan tanpa batas, ia berhasil membuat Rania melayang merasakan kenikmatan tiada tara. Usapan lembut jemari kokohnya terus menyapu kulit mulus Rania, menelusuri setiap jengkal dari bagian t

