Rania menghela napas untuk kesekian kali. Perasaan bersalah, cemas dan kalud bercampur jadi satu sejak kepergian Kayna satu jam lalu. Ia merasa tidak tenang, mengkhawatirkan keadaan Kayna yang tak kunjung kembali. Bahkan saking gelisahnya, Rania sampai mengabaikan Rehan yang saat ini tengah melakukan panggilan video dengannya. "Sayang." Untuk kesekian kali Rehan di seberang sana, mencoba menenangkan Rania yang gelisah. "Sayang, percaya sama aku, Kayna pasti baik-baik saja. Aku tahu Kenzo, dia nggak mungkin----" "Gimana kalau Kenzo khilaf?" sergah Rania, memotong sepihak pembicaraan Rehan di telepon. "Gimana kalau dia hilang akal dan nekat berbuat yang enggak-enggak? Gimana kalau ternyata dia malah nyakitin fisik Kayna juga? Gimana kalau dia malah sampai bunuh Kayna karena emosi? Mereka p

