Pagi itu suasana butik masih sepi. Lampu utama belum sepenuhnya dinyalakan, hanya cahaya putih dari etalase kaca yang menerangi ruangan. Semua karyawan berdiri berjejer rapi untuk rapel pagi sebelum toko dibuka.
Aku berdiri di barisan paling ujung.
Seperti biasa.
“Kita mulai, ya.”
Suara kepala divisi terdengar tegas. Pak Arman membuka tablet di tangannya, menatap satu per satu laporan penjualan minggu terakhir.
Beberapa nama dipuji. Beberapa diberi evaluasi ringan.
Sampai akhirnya—
“Kai.”
Namaku disebut.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
Aku melangkah sedikit maju.
“Nggak ada kemajuan, Kai. Penjualan kamu akhir-akhir ini merosot tajam.” ucapnya tanpa basa-basi.
Semua mata langsung tertuju padaku.
Aku menelan ludah.
“Maaf, Pak… saya sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Itu bukan alasan.
Itu kenyataan.
Bulan terakhir butik memang lebih sepi. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Sebagian besar tamu VIP yang biasanya menjadi peluang besar justru lebih sering dilayani Mbak Siska—senior terbaik di butik ini.
Aku tidak pernah berani mengeluh.
Karena aku tahu posisiku hanya junior.
Pak Arman menghela napas panjang.
“Usaha saja nggak cukup kalau hasilnya nggak ada. Butik ini bukan tempat belajar selamanya.”
Dadaku terasa seperti ditekan sesuatu.
“Kalau begini terus, kamu nggak bisa dipertahankan lagi.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa peringatan.
Tanpa jeda.
“Minggu ini kesempatan terakhir. Kalau nggak ada produk yang bisa kamu jual… terpaksa kamu saya berhentikan.”
Sunyi.
Tak ada satu pun yang berbicara.
Aku berdiri kaku, mencoba tetap terlihat tenang meski rasanya dunia seperti runtuh di depan mata.
“Baik, Pak…” jawabku lirih.
Rapel pun ditutup.
Semua karyawan kembali ke posisi masing-masing, bercanda ringan seolah tidak terjadi apa-apa.
Hanya aku yang masih berdiri beberapa detik lebih lama.
Jika aku kehilangan pekerjaan ini…
aku kehilangan segalanya.
Menjadi penjaga toko di salah satu butik ternama adalah satu-satunya kebanggaan yang kumiliki. Dari sinilah aku membayar kontrakan kecilku, membeli kebutuhan sehari-hari, dan mengirim uang untuk ibu di kampung.
Aku tidak punya rencana cadangan.
Tidak punya tabungan cukup.
Tidak punya tempat jatuh selain pekerjaan ini.
“Kai.”
Aku menoleh.
Mbak Siska berdiri di sampingku sambil merapikan rambutnya.
“Kamu dimarahin lagi?” tanyanya santai.
Aku tersenyum tipis.
“Iya, Mbak.”
Dia mengangguk pelan.
“Target memang berat. Nggak semua orang cocok kerja di butik kelas atas.”
Entah kenapa kalimat itu terasa menusuk.
Aku hanya mengangguk kecil, memilih diam.
Lampu butik akhirnya dinyalakan sepenuhnya. Musik instrumental lembut mulai mengalun. Pintu kaca otomatis terbuka tepat pukul sembilan pagi.
Hari kerja dimulai.
Hari penentu masa depanku.
Aku menarik napas panjang, merapikan name tag di d**a.
Minggu terakhir.
Aku harus berhasil.
Apa pun caranya.
Dadaku terasa sesak. Rasanya seperti berdiri di ujung jurang tanpa pegangan. Aku menunduk, berusaha menahan ekspresi agar tidak terlihat rapuh di depan rekan kerja lain.
“Baik, Pak. Saya mengerti.” Suaraku nyaris tak terdengar.
Kepala divisi hanya mengangguk singkat sebelum membubarkan briefing pagi. Semua karyawan mulai menyebar ke posisi masing-masing. Lampu butik dinyalakan, aroma parfum ruangan yang khas langsung memenuhi udara.
Butik ini selalu terlihat mewah—lantai marmer mengilap, rak kaca elegan, dan gaun-gaun mahal yang bahkan harganya bisa lebih besar dari gajiku setahun.
Namun pagi itu, semuanya terasa menekan.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Minggu terakhir.
Kesempatan terakhir.
Kalimat itu terus berputar di kepalaku.
“Kai.”
Aku menoleh. Mbak Siska berdiri di sampingku dengan senyum tipis yang sulit kuterjemahkan. Senior yang selalu jadi andalan butik… sekaligus orang yang hampir selalu mengambil pelanggan VIP.
“Kamu dimarahin lagi?” tanyanya santai.
Aku tersenyum kaku. “Iya… sedikit.”
Dia mengangguk pelan, lalu merapikan rambutnya di cermin display.
“Ya wajar sih. Target kamu memang jauh turun.” Ucapannya terdengar ringan, tapi entah kenapa menusuk.
Aku diam saja.
Bukan karena tidak ingin membela diri.
Tapi karena memang tidak punya kekuatan lagi.
Beberapa minggu terakhir, hampir setiap pelanggan langgananku diarahkan ke Siska. Katanya karena pengalaman lebih tinggi. Katanya supaya closing lebih pasti.
Dan aku… hanya kebagian pengunjung yang sekadar melihat.
Belum lagi sistem komisi yang membuat penjualan menjadi segalanya.
Tanpa penjualan, aku bukan siapa-siapa di sini.
Pintu butik terbuka.
Seorang wanita sosialita masuk dengan tas branded yang bahkan belum pernah kulihat secara langsung sebelumnya. Refleks aku melangkah maju.
“Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?”
Namun sebelum aku sempat mendekat sepenuhnya—
“Mbak Rena! Lama nggak ketemu!” suara Mbak Siska terdengar lebih cepat.
Dia sudah lebih dulu menyambut pelanggan itu dengan hangat.
Langkahku otomatis berhenti.
Lagi.
Aku menarik tangan kembali perlahan.
Perasaan kecil dan tidak dibutuhkan kembali menyusup.
Aku berdiri di samping rak gaun pastel, pura-pura merapikan hanger, padahal mataku diam-diam memperhatikan bagaimana Siska tertawa akrab dengan pelanggan VIP itu.
Mereka bahkan langsung menuju ruang fitting khusus.
Closing hampir pasti.
Tanganku mengepal.
Kalau begini terus… aku benar-benar akan kehilangan pekerjaan ini.
Aku menelan ludah, mencoba menepis rasa putus asa.
Tidak.
Aku tidak boleh menyerah.
Ini minggu terakhirku.
Aku harus mendapatkan pelanggan. Siapa pun itu.
Beberapa menit kemudian, pintu butik kembali terbuka.
Seorang wanita paruh baya datang.
Penampilannya sederhana. Sangat sederhana, bahkan. Ia mengenakan blouse lama berwarna krem yang sedikit pudar, rok panjang polos, dan sandal datar yang terlihat sudah sering dipakai. Rambutnya disanggul seadanya tanpa riasan wajah mencolok.
Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan pelanggan butik mewah.
Begitu wanita itu melangkah masuk, aku melihat Mbak Siska langsung memalingkan wajahnya. Tatapannya kemudian beralih padaku—sinis.
“Pelanggan terakhir buat kamu.” ucapnya pelan sambil menepuk pundakku.
Aku menoleh.
“Aku jamin dia nggak bakal beli apa pun. Kalau wanita tua itu sampai beli sesuatu di butik ini…” ia terkekeh kecil, “…aku traktir kamu makan siang.”
Beberapa rekan kerja lain ikut tersenyum samar.
Aku hanya diam.
Memang, dari segi penampilan, wanita itu jauh dari kata ideal sebagai pembeli butik yang harga produknya ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan beberapa gaun eksklusif di sini bernilai puluhan juta.
Namun entah kenapa…
aku tidak ingin menilai seseorang dari penampilannya.
Bukankah tugasku memang melayani siapa pun yang datang?
Aku menarik napas pelan, lalu berjalan menghampirinya dengan senyum tulus.
“Selamat pagi, Ibu. Selamat datang di Aurelia Boutique. Ada yang bisa saya bantu?”
Wanita itu menoleh. Matanya hangat, meski terlihat lelah.
“Iya, Nak… saya cuma ingin melihat-lihat dulu. Boleh?”
“Tentu saja, Bu.” jawabku cepat. “Silakan.”
Aku berjalan sedikit di belakangnya, memberinya ruang agar tidak merasa diawasi. Ia menyentuh beberapa kain gaun dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.
Gerakannya membuat hatiku terasa hangat.
Seperti seseorang yang benar-benar menghargai sesuatu.
“Ibu sedang mencari pakaian untuk acara tertentu?” tanyaku lembut.
Wanita itu tersenyum kecil.
“Minggu depan ada acara keluarga… penting sekali buat saya.”
Nada suaranya terdengar penuh makna.
Aku mengangguk, lalu mulai memperhatikan bentuk tubuhnya, warna kulitnya, dan gaya yang mungkin cocok.
“Ibu boleh coba yang ini,” kataku sambil mengambil gaun biru lembut dengan potongan elegan namun tidak terlalu mencolok. “Modelnya nyaman dan tetap terlihat anggun.”
Wanita itu tampak ragu saat melihat label harga.
Aku bisa melihat jelas perubahan ekspresinya.
Tangannya hampir mengembalikan gaun itu.
“Saya hanya mau mencoba saja… boleh?”
“Tentu boleh, Bu.” jawabku cepat sambil tersenyum menenangkan. “Tidak ada kewajiban membeli.”
Ia masuk ke ruang fitting.
Dari kejauhan, aku bisa merasakan beberapa tatapan rekan kerja memperhatikanku—termasuk Mbak Siska yang tampak menahan tawa.
Beberapa menit kemudian, tirai fitting terbuka.
Aku terdiam.
Gaun itu… terlihat sangat cocok padanya.
Potongan sederhana itu justru membuatnya tampak elegan. Wajahnya yang tadi terlihat lelah kini tampak lebih hidup.
“Ibu terlihat cantik sekali,” ucapku tulus.
Wanita itu menatap cermin lama sekali.
Matanya perlahan berkaca-kaca.
“Sudah lama… saya tidak merasa seperti ini,” katanya lirih.
Aku ikut tersenyum.
Kadang, pekerjaan ini bukan hanya soal menjual pakaian.
Tapi membuat seseorang kembali percaya diri.
Wanita itu akhirnya keluar dari fitting room dan mendekatiku.
“Nak… saya ambil yang ini.”
Aku membeku.
“…Ibu yakin?”
Ia mengangguk mantap.
“Iya. Tolong sekalian bungkus.”
Detik itu juga, suara mesin kasir terasa seperti musik paling indah yang pernah kudengar.
Penjualan pertamaku minggu ini.
Tanganku hampir gemetar saat memproses transaksi.
Dari sudut ruangan, aku melihat wajah Mbak Siska berubah kaku.
Dan sebelum wanita itu pergi, ia menggenggam tanganku lembut.
“Kamu satu-satunya yang menyambut saya tanpa merendahkan. Terima kasih, Nak.”
Dadaku menghangat.
Aku tidak tahu…
bahwa wanita sederhana itu bukan pelanggan biasa.
Dan pembelian kecil hari itu…
akan membuka pintu keberuntungan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.