Bab 16. Benih-benih Cinta

1016 Kata

“Hm.” Pram menggumam sambil terus mengaduk. Dia senang karena Wening menikmati sentuhannya dan tidak menolak. Satu hal, dia mengetahui bahwa Wening mengatakan yang sebenarnya bahwa dia yang belum tersentuh sama sekali. Wening semakin terdesak, napasnya mulai berat dan Pram mempercepat gerakan tangannya, sesekali menekan tapi tidak kuat. “Oooh, oooh.” Wening menggeliat sambil memegang lengan Pram kuat-kuat. Tak lama kemudian, Pram merasakan hangat cairan ke luar dari liang Wening. “Maaf, Pak,” ucap Wening, merasa tidak mampu mengendalikan diri. Pram tersenyum hangat. “Nggak apa-apa,” balasnya, dan tangannya masih memegang milik Wening. “Sudah, Pak. Sudah, oooh.” Wening memegang tangan Pram hendak menariknya agar ke luar dari balik celana, tapi Pram sepertinya belum mau. “Pertama?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN