Wening terdesak lagi saat pinggul Pram bergerak maju mundur di depan tubuhnya. “Ah, enaknya, Ning. Duh, aku nggak bisa tahan lagi, aku ingin selalu bersamamu, setiap saat, setiap malam dan aku tadi tegang bangeeet. Oooh,” racau Pram. Setelahnya dia terus bergerak, cukup lama, sambil melumat bibir Wening, juga menghisap leher Wening dengan buas. Keduanya sama-sama diterpa kenikmatan, lupa akan segala hal, Wening yang puas lagi dan Pram yang akhirnya merasakan pelepasan sempurna. Pram memelankan gerakannya ke tubuh Wening, menikmati pelepasannya hingga tetes terakhir di dalam tubuh Wening. Dia tampak sangat menikmati momen indah di dapur malam ini. Tatapannya sayu ke wajah Wening yang diterpa cahaya temaram lampu kecil di dapur, berucap lirih, “Aku mencintaimu.” Wening memeluk leher P

