Wening mendengus tersenyum, dia tahu Kresna menyukainya sejak lama, bahkan sebelum berpacaran dengan Bondan, Kresna lebih dulu menyatakan suka, tapi dia tidak memiliki hati sama sekali ke Kresna, meskipun pria itu secara fisik lebih tampan dari Bondan, juga lebih kaya. Kresna memang bekerja sebagai staff biasa di kantor Kelurahan, tapi keluarganya dikenal kaya di kampung. “Aku ingin melamar kamu, aku sudah ceritakan niatku ini ke bapakmu, tapi bapakmu bilang terserah kamu,” ujar Kresna dengan tatapan hangatnya. Wening menggeleng lemah. “Ning, aku tau kamu masih kecewa dengan kejadian malam pertamamu, tapi bukan berarti kamu terus-terusan begini, menolak membuka hati.” Wening masih menggeleng. “Atau … karena aku masih saudara Bondan?” Wening mengangguk. “Ya.” Padahal hatinya sudah t

