Bab 4. Ajakan Pram

1222 Kata
Pram menghela napas panjang sebelum menjawab. Menatap kosong hamparan meja makan, lalu menjawab. “Kami sudah tidak cocok lagi.” Jawaban klise, tapi Wening mengerti, meskipun ada banyak tafsiran dari jawaban tersebut. “Lalu apa yang ingin Bapak tanyakan ke saya soal perceraian?” “Kamu berapa lama menikah?” Wening tertawa kecil, menggeleng. “Saya nggak tahu banyak tentang perceraian,” lirih Wening, menghindari menjawab pertanyaan Pram. “Kamu nggak jawab pertanyaan saya.” “Saya malu menjawabnya.” Pram tertawa renyah, hingga gigi rapihnya terlihat jelas di bawah sinar lampu di atas meja makan, dan Wening yang diam-diam mengagumi. “Well, saya menikah dengan Donna karena dia hamil Miranda tiga bulan. Kami berpacaran satu tahun, lalu dia hamil dan meminta saya menikahinya.” Wening tertegun mendengar pengakuan lugas Pram. “Kami tidak cocok sejak menikah, kami sebenarnya hidup masing-masing, Donna dengan dunianya dan saya dengan dunia saya. Tapi kami punya anak dan harus membuatnya bahagia. Kami lelah bersandiawara, bagi kami cukup lima tahun saja. Jenuh juga.” Wening tidak mengerti, tapi berusaha memahami. Satu hal, dia berpikir bahwa sepertinya tidak ada cinta dalam hubungan keduaorang tua anak asuhnya ini. “Jadi saya ingin tanya bagaimana perasaanmu setelah bercerai," ujar Pram akhirnya. Wening berdehem sebentar, “Saya malu setelah bercerai, tapi lega setelah beberapa lama. Saya menyadari bahwa dia tidak baik untuk saya.” “Kamu berapa lama menikah?” Pram mengulang pertanyaannya lagi. “Sudah saya bilang saya malu menjawabnya, Pak Pram.” Jawaban Wening tentu membuat Pram penasaran. Wening jengah, dia beranjak dari duduknya. Tiba-tiba Pram meraih tangannya. “Wening, jangan begitu. Duduklah dulu.” Wening terkesiap, berusaha menenangkan diri, karena sikap Pram yang menurutnya berlebihan. Seketika dia khawatir, mengedar pandangan ke seluruh penjuru dapur. Pasti ada kamera pengintai, bagaimana jika ada yang iseng membuka lalu melihatnya berduaan dengan Pram di dapur di waktu larut malam. Pasti akan berimbas ke pekerjaannya, dan dia yang memang sangat membutuhkan pekerjaan ini. “Jangan khawatir, saya yang bertanggung jawab di rumah ini. Saya hanya ingin berbagi,” ucap Pram, memahami apa yang dikhawatirkan Wening. Wening kembali duduk sambil menyingkirkan tangan Pram yang masih mencekalnya. “Kenapa malu?” tanya Pram, suaranya lembut menenangkan. “Saya menikah beberapa jam saja, saya diceraikan tepat malam pertama. Mantan suami bilang saya sudah tidak perawan,” ujar Wening akhirnya. Entah kenapa dia lega setelahnya, sudah sekian lama tidak ada yang bertanya tentang pernikahannya yang sangat menyakitkan. Pram mengamati Wening dengan seksama, “Dan … itu tidak benar?” Wening mengangguk. “Ya, saya berhubungan dengan eks jarak jauh dua tahun, dia bertugas di pedalaman Kalimantan, dan saya di Magelang. Saya nggak mengerti kecurigaan itu dan saya nggak menyangka.” “Dan kamu pasrah dengan perceraian?” “Ya.” Pram mengamati Wening yang pasrah. “Adil?” Wening bingung menjawab. “Awalnya … tentu tidak adil bagi saya. Tapi semakin ke sini, saya lega.” Pram mengangguk-angguk. Awalnya dia ingin tahu pendapat Wening tentang perceraian, tapi ternyata pengalaman Wening cukup pelik. “Pak, saya harus bangun pagi besok,” ujar Wening, dan dia kurang menyukai percakapan ini. Pram tertegun. “Ya, baiklah,” ucapnya. Wening sudah rebah di atas kasur, merenungi percakapannya dengan Pram barusan. Dadanya terasa sesak kembali mengingat pernikahannya yang penuh drama, pernikahan yang kelam. Masih terasa perih luka di hati, mengingat begitu piawai Bondan memainkan drama dan Wening yang terkesan murahan. Sekeliling rumahnya mendadak mencoba menduga-duga laki-laki mana yang telah menodainya, bahkan ada yang bertaruh. Wening memiringkan posisi rebahnya, memikirkan Pram. Dia mengakui Pram memiliki fisik sempurna, dan sikapnya yang baik, meskipun awalnya dia menilai sebaliknya. Terutama perhatian kecilnya, mencucikan piring bekas makannya sudah sangat luar biasa bagi Wening. Sedikit heran dengan cerita Pram mengenai hubungannya dnegan Donna, mereka menikah setelah Donna hamil, dan seolah tidak ada cinta di dalam pernikahan. Ah, Wening tidak ingin pikirannya terbebani dengan masalah Pram dan Donna, memilih tidur dan fokus bekerja besok pagi. *** Seperti di pagi-pagi sebelumnya, Miranda yang bersemangat. Pagi-pagi bangun dan dimandikan Wening, ditemani senandung riang dan lembut suara Wening. “Ini kenapa?” tanya Wening saat melap-lap tubuh Miranda, melihat sedikit bekas luka di lengan kiri mulus Miranda. Dia menyentuhnya dan tangan Miranda bergerak seakan hendak menggaruk, tapi dengan cepat ditahan Wening. “Gatel, Miss.” “Nyamuk.” Wening lalu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, sepertinya dia harus membersihkan kamar Miranda meskipun bukan pekerjaannya. “Nggak usah digaruk ya?” Miranda mengangguk. Lalu Wening memberikan salep ke lengan Miranda yang digigit nyamuk. Miranda masih dengan semangatnya, meskipun dia sarapan tanpa papi dan maminya. Masih ada yang menemaninya, Wening. “Mbak Wening cantik,” tegur Raja, sopir pribadi keluarga Miranda. “Ya, Pak?” “Saya nggak antar hari ini.” “Oh, nggak apa-apa, Pak. Saya bisa naik taksi.” “Nggak, pagi ini pak Pram yang antar.” Wening tercenung dan sedikit terkejut. “Oh, oke.” “Tapi … nanti saya yang jemput. Ada les renang, ‘kan?” “Iya, Pak.” Raja tersenyum manis sebelum pergi meninggalkan dapur. “Papi antar ke sekolah, Miss?” Wening mengangguk tersenyum. “Yes!” *** Miranda sudah sarapan, dan bersiap-siap pergi ke sekolah bersama Wening. Dia terlihat senang pagi ini karena akan diantar papinya. “Papi!” teriak Miranda saat sudah berada di luar, Pram langsung menyambutnya. Wening lalu memasukkan semua peralatan sekolah Miranda ke bagasi mobil dan Raja ikut membantu. Bukan main Miranda senang karena pagi ini papinya yang mengantarnya ke sekolah. “Mami di mana, Pi?” tanya Miranda saat perjalanan menuju sekolah. “Di rumah tante Fitri,” jawab Pram yang menyetir. “Oh. Nanti malam mami pulang ke rumah?” “Nanti Papi tanya.” “Mami sibuk ya?” “Ya, selalu sibuk.” “Papi juga sibuk.” Pram tertawa kecil, dia mengamati sekilas Wening melalui kaca spion depan, dan Wening yang tidak menyadari. Mobil sudah sampai di sekolah, Miranda dan Wening turun dari mobil, juga Pram. “Kalo Miranda sudah masuk kelas, kamu ngapain?” tanya Pram ke Wening saat berjalan menuju gedung kelas Miranda. “Oh, saya tunggu di ruang tunggu, Pak.” “Tiga jam menunggu?” “Iya, tiga jam nggak lama. Saya sambil mengawasi Miranda. Tapi, kadang saya juga pulang ke rumah." Pram mengangguk, kagum dengan Wening. “Sebelumnya pengasuh Miranda nggak stay di sekolah, dia nongkrong di café, kadang pulang ke rumah. Menik namanya.” “Ya, pak Raja sudah cerita ke saya.” “Susah cari pengasuh yang cocok, Miranda cocoknya sama kamu.” Wening mengangguk, sedari awal mengajar dia sudah dekat dengan Miranda, dan dia tidak mengerti kenapa Miranda yang seolah tidak ingin berjauhan darinya. Padahal dia tidak membeda-bedakan sikap kepada anak-anak didiknya, juga tidak terlalu mengistimewakan Miranda. Miranda sudah masuk ke dalam kelas, guru-guru yang bertugas tampak menyapa Wening dan berbincang dan mereka yang saling sapa, juga menyapa Pram dengan hormat, karena Pram adalah salah satu donator utama yayasan sekolah bertaraf internasional tersebut. “Wening, saya ingin ajak kamu ke resto,” ujar Pram saat Miranda sudah bergabung dengan teman-teman di kelasnya. “Pak?” “Ayolah. Nggak lama, nanti saya antar kamu ke sekolah lagi.” “Tapi, saya belum waktunya makan.” “Minum saja kalo begitu.” Pram tampak memaksa, dan Wening yang memilih menurut. Keduanya berjalan bersama menuju mobil dan Pram menyuruh Wening duduk di sebelahnya di bagian depan mobil. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN